“Lihat dan Kenalilah Aku”: Renungan Senin, 30 Agustus 2021

0
3201

Hari biasa (H).

BcE 1Tes. 4:13-17; Mzm. 96:1,3,4-5,11-12,13; Luk. 4:16-30.  

Sering kali ketika kita bertemu dengan seseorang yang baru dikenal, kita akan memperhatikan fisik dan cara berpakaiannya. Hal tersebut biasa dilakukan karena kesan pertama sangat menentukan suatu perkenalan. Kemudian, dalam perkenalan, pertanyaan tentang asal-usul seseorang sering juga ditanyakan. Pertanyaan seperti itu bertujuan agar kita dapat mengetahui latar belakang seseorang, identitas diri, budaya dan daerahnya. Pertanyaan ini juga menjadi standar dalam perkenalan. Namun, kadang kala bila mengetahui asal-usul seseorang, timbul kesan tidak baik ketika seseorang berasal dari daerah yang umumnya dianggap banyak pelanggaran. Kadang kala kesan pertama melahirkan kekeliruan yang berujung pada terjadinya penolakan.

Dalam bacaan Injil, Tuhan Yesus mengalami penolakan. Ia ditolak di Nazaret, kampung halaman-Nya. Daerah ini tidaklah dikenal buruk. Yesus pun bukanlah seorang yang jahat. Ia selalu tampil untuk mengajar banyak orang di rumah ibadat dengan penuh kuasa. Ia sering menyembuhkan orang-orang sakit. Kendati demikian orang-orang tetap menolak-Nya. Menjadi pertanyaan, mengapa mereka menolak-Nya? Orang-orang itu mengenal Tuhan Yesus beserta keluarga-Nya. Hal ini menimbulkan anggapan remeh terhadap-Nya dan membuat mereka menolak Dia. Mereka menolak Yesus karena keangkuhan dan kesombongan diri mereka, yang akhirnya membuat hati mereka tertutup. Hati yang tertutup melahirkan penolakan terhadap diri Yesus sebagai pemenuhan janji Allah dan mengabaikan kebenaran yang diajarkan-Nya. Kendati Yesus ditolak, Dia tidak takut dan terus berkarya.

Belajar dari pengalaman Yesus yang ditolak, kita harus berani dan tidak takut terhadap penolakan. Apabila dalam melakukan perbuatan baik kita mendapat penolakan oleh orang-orang di sekitar kita, maka tegarlah seperti Tuhan Yesus, maju dan teruslah berbuat baik. Bila perbuatan baik kita diabaikan, ini menandakan adanya hati yang tertutup. Orang-orang yang memiliki hati seperti ini kadang kala hanya berurusan dengan hal-hal tidak penting dan mengabaikan apa yang penting. Mereka hanya melihat hal-hal yang tampak dari luar dan tidak mencoba melihat di kedalaman hati seseorang. Mengenal seseorang hanya dari luar saja, tidak mampu menemukan gambaran sejatinya. Jangan sampai kita menjadi orang-orang seperti itu.

Kita tidak boleh menutup hati kita bagi orang lain dan Tuhan. Marilah kita membuka hati akan hal-hal baik di sekitar kita, agar kita bisa mengenal Tuhan dan karya-karya-Nya. Hendaknya kita membuka hati, agar dapat menerima orang lain dan mengenal kehendak Tuhan.

(Fr. Romi Lermatan)

“Aku berkata kepadamu, sesungguhnya tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya” (Luk. 4:24).

Marilah berdoa:

Tuhan, bukalah hati yang tertutup ini agar aku dapat mengenal Engkau. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini