“Iman Diungkapkan dalam Tindakan”: Renungan, Minggu 29 Agustus 2021

0
1830

Hari Minggu Biasa XXII (H)

Ul. 4:1-2,6-8; Mzm. 15:2-3a,3cd-4ab,5; Yak. 1:17-18,21b-22,27; Mrk. 7:1-8,14-15,21-23.

Rasul Yakobus terkenal dengan ajakan-ajakannya untuk menunjukkan iman dengan perbuatan-perbuatan. Rasul Yakobus mengajarkan, “Hendaklah kamu menjadi pelaku firman, dan bukan hanya pendengar saja. Sebab jika tidak demikian, kamu menipu diri sendiri” (Yak. 1:22). Ungkapkan iman yang paling mudah terlihat oleh sesama ialah jika seorang beriman mewujudkan imannya dalam perbuatan-perbuatan baik. Santo Yakobus memberikan contohnya, seperti: “mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka, serta menjaga diri supaya tidak dicemarkan oleh dunia.”

Nasihat Santo Yakobus itu memberikan pesan penting kepada kita untuk memperhatikan beberapa hal ini. Pertama, kita harus selalu mendengarkan firman Tuhan supaya iman kita tetap hidup dan kuat. Musa mengingatkan umat Israel supaya memelihara perintah Allah dengan setia. Jangan mengurangi dan jangan menambah. Maksudnya, kita perlu membuka hati dan pikiran untuk mendengarkan Tuhan, supaya dapat mengetahui kehendak-Nya. Kita harus percaya bahwa Tuhan mengetahui lebih baik daripada kita. Musa berpesan: “Lakukanlah dengan setia apa yang telah kuperintahkan kepadamu, sebab itulah yang akan menjadi kebijaksanaanmu.”

Kedua, iman harus diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Iman harus mewarnai cara kita bergaul dengan sesama, cara kita bekerja dan cara hidup supaya tidak dicemari oleh dunia. Kita sering mendapat nasihat ini dari para rasul bahwa kita jangan menyesuaikan diri dengan dunia ini. Kita harus hidup sebagai anak-anak Allah yang penuh kasih dan kebenaran. Dunia sering memberikan tawaran-tawaran yang membuat manusia lebih banyak mementingkan dan mengingat dirinya sendiri. Kita sering tergoda untuk hidup secara berlebihan, melakukan pemborosan, membuang-buang makanan, dan juga membeli barang yang sebenarnya tidak kita perlukan. Kita perlu hidup ugahari dan secukupnya saja, sebagai latihan untuk melepaskan diri dari dunia ini. Mazmur mengungkapkan dengan indah kebahagiaan sejati ialah dekat dengan Tuhan: “Ya Tuhan, siapakah boleh menumpang di kemah-Mu? Orang yang hidupnya tanpa cela dan berlaku jujur, dan yang berkata benar dalam hatinya, dan tidak memfitnah dengan lidahnya.”

Ketiga, iman dinyatakan dari hati yang bersih ke dalam ungkapan budaya-budaya kita sendiri yang semakin membangun hidup kita. Dalam Injil Markus, Yesus mengkritik adat istiadat Yahudi yang membelenggu manusia karena terjebak pada hal-hal duniawi, yang dianggap bisa menajiskan manusia. Yesus mengingatkan bahwa yang menajiskan manusia itu adalah apa yang keluar dari hatinya yang jahat seperti: pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati dan kesombongan. Semua hal jahat ini timbul dari dalam dan menajiskan orang.

(P. Albertus Sujoko, MSC)

“Apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya” (Mrk. 7:20).

Marilah berdoa:

Tuhan, anugerahilah kami hati yang terbuka untuk mendengarkan firman dan memahami kebutuhan sesama di sekitar kami supaya kami tergerak untuk membantu mereka. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini