Hari biasa (H)
1Tes. 1:2b-5,8b-10; Mzm. 149:1-2,3-4,5-6a,9b; Mat.23:13-22.
Realita kehidupan manusia pada umumnya tidak pernah terlepas dari yang namanya teguran. Hal ini terjadi karena manusia selalu melakukan kesalahan yang sama dan perlahan-lahan hal tersebut akan menciptakan kebiasaan yang tidak baik dalam kehidupannya dan memberikan pengaruh yang buruk bagi orang lain. Injil Matius pada hari ini mengisahkan tentang pemimpin-pemimpin yang buta. Dalam kisah itu, Yesus menegur para ahli Taurat dan orang Farisi karena karakter dan kepribadian mereka yang tidak sejalan dengan perkataan dan ajaran yang mereka ajarkan. Dengan tindakan tersebut, mereka telah menyesatkan banyak orang namun mereka tidak menyadarinya dan berusaha menutupi kesalahan itu.
Pada hari ini Yesus tampil di depan orang banyak sebagai pemimpin yang benar, dan tidak seperti para ahli Taurat dan orang-orang Farisi yang menjadi pemimpin-pemimpin buta di mana mereka selalu menyesatkan orang lain. Kehadiran Kristus hendak menunjukkan kepada kita bagaimana menjadi orang yang mampu menyuarakan kebenaran dan bertindak yang benar. Hal ini dilakukan-Nya agar kita perlu mengetahui siapa yang harus kita ikuti. Ia hadir di tengah-tengah kita agar kita dapat melihat dan menyaksikan perbuatan-Nya yang sejalan dengan kebenaran yang Ia sampaikan. Dengan begitu kita sendiri dapat menaruh iman kepercayaan kepada-Nya bahwa Dialah Tuhan yang selalu menunjukkan kebenaran itu kepada kita dan senantiasa menuntun serta memimpin kita di jalan kebenaran.
Ketika kita percaya kepada-Nya dan mewujudkan cinta kasih-Nya dalam hidup kita, apa yang kita lakukan? Hal sederhana yang dapat kita lakukan adalah saling mendoakan seperti yang disampaikan oleh Rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Tesalonika. Agar kita senantiasa berada dalam kebenaran dan mewujudkan kebenaran itu, karena kita sendiri telah mengenal Dia dan percaya kepada-Nya. Tidak hanya itu, melalui bacaan-bacaan hari ini Yesus hendak memberikan teguran kepada kita, bersama dengan orang-orang farisi dan ahli-ahli taurat. Agar kita dapat mengoreksi diri kita dan memperbaiki diri kita serta kembali ke jalan yang benar.
Seperti Kristus yang menyuarakan dan mengaktualisasikan kebenaran secara konkrit dalam pelayanan-Nya, maka hendaklah kita pun yang telah dianugerahi martabat sebagai imam, nabi dan raja dalam pembaptisan harus mampu meneladani dan melakukan hal yang sama seperti Kristus yakni menjadi pemimpin yang benar bagi diri sendiri dan sesama dalam kehidupan sehari-hari.
(Fr. Yohanes Berechmans Lury)
“Celakalah kalian, hai pemimpin-pemimpin buta”(Mat. 23:16a).
Marilah berdoa:
Ya Tuhan, bimbinglah kami ke jalan kebenaran-Mu. Amin.











