Pw S. Pius X, Paus (P)
BcE. Rut. 2:1-3,8-11;4:13-17; Mzm. 128:1-2,3,4,5; Mat. 23:1-12; atau dr RUybs. BcO Ef. 4:1-16. O IbdSore I.
Saudara terkasih, dalam kehidupan setiap hari tentunya kita mengalami dan menghadapi banyak karakter orang, salah satunya ialah karakter munafik. Karakter munafik ini dapat ditemukan pada orang yang hanya banyak berbicara dan tidak melakukan apa yang mereka katakan. Ciri orang demikian adalah suka mendapat pujian dari orang lain. Orang-orang yang cenderung suka untuk mendapat pujian digolongkan sebagai orang yang tinggi hati.
Injil hari ini mengisahkan tentang Yesus yang mengkritik cara hidup orang Farisi dan para ahli Taurat. Orang-orang Farisi dan para ahli Taurat adalah orang-orang yang sangat memahami Hukum Taurat. Maka Yesus tidak melarang para murid-murid-Nya untuk megikuti apa yang diajarkan oleh orang Farisi dan para ahli Taurat. Tindakan orang Farisi ini baik karena mereka mengajarkan Hukum Taurat. Namun permasalahannya ialah mereka hanya ingin mendapat pujian dan hormat dari orang lain.
Keselarasan antara hal baik yang kita ucapkan dengan apa yang kita lakukan adalah tantangan bagi kita semua. Yesus menginginkan kesesuaian antara praktek dan apa yang kita pikirkan atau katakan. Yesus tidak ingin prestasi dan prestise. Yesus sendiri yang menunjukkan sikap demikian. Yesus memimpin, menggembalakan serta menuntun orang melalui pemberian diri yang total dan pelayanan penuh kerendahan hati dan tidak munafik. Yesus mengatakan bahwa barang siapa yang terbesar harus menjadi pelayan dan barang siapa merendahkan diri akan ditinggikan. Bacaan pertama menampilkan dua tokoh yang memiliki kerendahan hati, yakni Rut yang dengan rendah hati ingin tinggal dan mendampingi ibu mertuanya, dan Boas dari kaum Elimelekh seorang yang kaya raya.
Saudara terkasih, pada hari ini pantaslah kita bertanya jangan-jangan kita juga bagian dari orang Farisi dan para ahli taurat yang ingin dipuji, hanya banyak berbicara tetapi tidak melaksanakan dan munafik. Mari kita bersama melihat dan mengoreksi diri kita. Mari bertanya pada diri kita apakah selama ini saya memakai topeng kemunafikan atau tidak. Apabila kita memiliki jawaban “Ya”, maka marilah dengan penuh kerendahan hati kita melepaskan topeng tersebut. Dengan demikian, kita akan memperoleh kasih dan kemurahan Tuhan.
(Fr. Rendy Rahangiar)
“Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barang siapa merendahkan diri akan ditinggikan” (Mat. 23:12).
Marilah berdoa:
Ya Tuhan, ajarilah kami untuk selalu rendah hati agar kami selalu setia melaksanakan perintah-Mu. Amin.











