“Lihatlah Ke Dalam”: Renungan, Senin 25 Juni 2018

0
2790

Hari Biasa (H)

2Raj. 17:5-8,13-15a,18; Mzm 60:3,4-5,12-13; Mat. 7:1-5.

Dalam hidup ini, kita sering memberikan penilaian bagi orang lain dan orang lain pun sering memberikan penilaian terhadap diri kita. Orang tua mulai menilai anak-anaknya, rakyat mulai menilai pimpinannya, murid-murid menilai gurunya, dll.

Fenomena-fenomena ini membuat seluruh proses kehidupan kita didasarkan atas penilaian-penilaian. Segala sesuatu diukur berdasarkan penilaian pribadi untuk orang lain. Konsekuensinya adalah kita sering terlena dengan penilaian-penilaian yang subjektif, yang hanya keluar dari dalam pribadi kita saja. Ada yang menaruh penilaian kepada orang lain itu berdasarkan sifat baik dan buruknya, ada yang menilai berdasarkan bodoh atau pandainya, atau menilainya beradarkan miskin dan kayanya, dan seterusnya.

Karena terlalu banyak menilai orang lain maka kita lupa untuk menilai diri kita sendiri. Pertanyaan refleksi untuk kita, apakah kita sudah baik terhadap orang lain atau malah sebaliknya?

Injil hari ini berbicara tentang “hal menghakimi”. Hal menghakimi ini tidak harus dilakukan di pengadilan, tetapi sering pula terjadi dalam kehidupan keseharian kita. Kita menuduh dan menilai orang lain itu sebagai salah satu bentuk penghakiman. Tetapi, kita kadang tidak menyadari hal itu sebagai penghakiman. Kita menuduh dan menilai orang lain atas kehendak kita sendiri. Hal itu terungkap dengan jalas dalam Injil: “Mengapa engkau melihat selumbar di mata saudaramu sedangakan balok di matamu tidak engkau ketahui” (7:3).

Ungkapan ini sangat keras dan tegas. Kita sering menilai dan melihat berbagai kekurangan dan kesalahan orang lain. Kita melihat rupa-rupa selumbar dalam diri orang lain, tetapi balok-balok yang besar dalam diri kita, tidak disadari dan tidak diperhatikan.

Oleh karena itu, Injil hari ini memberikan sebuah catatan yang keras untuk kita, tetapi juga menjadi jalan keluar untuk kita, yakni “keluarkanlah dahulu balok di matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas selumbar di mata saudaramu” (7:5).

Kita diajak untuk melihat ke dalam diri kita sendiri. Kita menyadari rupa-rupa kesalahan dan perbuatan kita selama ini. Dengan kesadaran diri itu, kita akan mampu membina hidup yang lebih baik dengan orang lain di sekitar kita. Kita sadar bahwa kita tidak luput dari kesalahan dan kelalaian dan berani untuk mengungkapkan bahwa “saya bersalah”.

Dengan demikian kita telah jujur dengan diri kita, jujur dan terbuka terhadap orang lain. Hal ini akan membuat hidup kita lebih harmonis dengan orang lain.

(Fr. Bonifasius Dianomo)

“Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi” (Mat. 7:1).

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, bantulah kami untuk menyadari kesalahan kami. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini