“Benih Unggul Gereja”: Renungan, Selasa 10 Agustus 2021

0
2108

Pesta S. Laurensius, DiakMrt (M)

2Kor. 9:6-10; Mzm. 112:1-2,5-6,7-8,9; Yoh. 12:24-26.

Penginjil Yohanes dalam warta sabdanya yang kita renungkan bersama hari ini menjelaskan tujuan dari kehidupan iman yaitu bahwa tidak ada kemuliaan tanpa penderitaan, tidak ada hidup yang berbuah tanpa kematian, tidak ada kemenangan tanpa penyerahan, tidak ada buah tanpa kurban. Pastinya ada satu keindahan jikalau benih itu “mati” dan memenuhi tujuannya. Seandainya sebuah benih dapat berbicara, benih itu pasti akan mengeluh karena ditaruh di tanah yang gelap dan dingin. Namun, satu-satunya cara supaya benih itu dapat mencapai tujuannya adalah dengan cara ditanam. Ini merupakan hal yang sangat lazim kita ketahui dalam dunia pertanian, dan bahkan dari satu biji benih yang ditanam akan menghasilkan banyak buah saat benih itu sudah menjadi tumbuh besar. Sebab biji tidak akan efektif dan berguna jikalau tetap disimpan dan tidak ditaburkan di tanah. Namun katika benih itu ditaburkan di tanah, ditanam, maka kelamaan ia akan bertumbuh dan berbuah.

Hanya dengan mengorbankan hidup, orang akan mendapatkan hidup itu. Sebaliknya orang yang mencintai hidupnya seringkali didorong oleh dua macam tujuan, yakni oleh nafsu mementingkan diri sendiri dan oleh keinginan untuk rasa aman. Dari sini kita mendapatkan satu pemahaman bahwa orang perlu membiarkan diri untuk ditanam seperti banih di dalam tanah. Tindakan menanggalkan kepentingan diri berarti mau untuk menjadi pribadi yang menghasilkan buah. mau untuk berkorban, mau untuk berbagi kehidupan. Pada titik ini, kasih yang sesungguhnya akan nampak.

Kematian orang baik mestinya tidak perlu ditangisi, sebab mereka juga akan tetap dikenang, diingat bahkan disanjung, dikagumi, sekalipun sudah berada di liang kubur. Sebab ia seperti benih yang baik yang jatuh ke tanah dan kemudian tumbuh dan menghasilkan buah berlimpah. Santo Laurensius dan para martir lainnya merupakan benih iman pada masa awal Gereja purba. Berkat darah mereka yang tercurah karena iman pada Yesus Kristus, akhirnya Gereja berkembang dan berjaya sampai ke seluruh dunia hingga hari ini. Santo Laurensius pun telah meneladani Yesus Sang Guru dan rela “ditanam” tetapi ia menghasilkan suka cita iman yang mendalam yakni buah yang berlimpah.

(Redaksi Lentera Jiwa)

“Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah” (Yoh. 12:24).

Marilah berdoa:

Ya Tuhan Yesus, tolonglah kami agar mau dan mampu untuk memilih mengikuti Engkau dengan sepenuh hidup kami. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini