Hari Biasa (H)
Ul. 10:12-22; Mzm. 147:12-13,14-15,19-20; Mat. 17:22-27.
Saudara-saudara terkasih, berefleksi dari bacaan-bacaan hari ini yang bertepatan dengan peringatan fakultatif St. Teresia Benedikta atau St. Edith Stein, mengajak kita untuk memuliakan Tuhan dalam sikap kristiani yang berasal dari sikap Kristus sendiri.
Pertama, kerendahan hati. Dalam bacaan Injil dikisahkan bahwa Petrus ditanyai apakah Yesus gurunya membayar pajak untuk bait Allah. Dengan kata lain, pajak kepada Allah. Petrus yang mendapati Yesus pun diperintahkan oleh Yesus untuk memancing ikan dan kemudian mengambil uang koin yang ada dalam mulut ikan pertama yang ia dapatkan. Dengan uang tersebut, Petrus pun membayar pajak Yesus dan dirinya sendiri untuk bait Allah. Demikianlah meski merupakan Anak Allah Yesus tetap melaksanakan kewajiban sebagai orang Yahudi dengan rendah hati.
Kedua, ketaatan hati. Dengan membayar pajak bait Allah meski Yesus adalah Allah, Ia juga sesungguhnya mengajari kita para pengikut-Nya untuk tetap setia dan taat pada kewajiban dan tugas kita sehari-hari. Dalam bacaan pertama, Allah mengingatkan bangsa Israel untuk taat kepada-Nya dalam mengasihi, dan beribadah kepada-Nya.
Ketiga kesungguhan hati. Dalam bacaan pertama setelah Tuhan menurunkan kesepuluh perintah Allah kepada orang Israel, Ia juga menegaskan bahwa tidak ada hal lain yang dituntut Tuhan selain hidup menurut segala perintah-Nya, mengasihi Tuhan, dan beribadah kepada Tuhan. Namun bukan dengan sekadar formalitas belaka, tapi dengan segenap hati dan segenap jiwamu.
Kerendahan, ketaatan, dan kesungguhan hati inilah yang sepenuhnya dicontohkan Kristus dalam karya penebusan lewat sengsara, wafat dan kebangkitan-Nya. Dengan Kerendahan hati Kristus rela menjadi manusia dan dengan ketaatan serta kesungguhan hati, Kristus menebus dosa umat manusia. Memang berat dan tidak mudah, namun St. Edith Stein yang kita peringati hari ini pun memuliakan Allah dengan caranya sendiri sesuai dengan tugas dan tanggung jawabnya. Semangat kesungguhan hati misalnya senantiasa Edith Stein hidup dalam studi filsafatnya yang cemerlang, dalam ketaatan yang luar biasanya dalam hidup membiara, dan kerendahan hatinya di hadapan Tuhan. Semoga kita pun senantiasa memuliakan Allah di tengah dunia dalam keseharian kita, lewat tugas dan tanggung jawab kita masing-masing.
(Fr. Paulus Gino Wuisan)
“Allah memanggil kita, agar kita memperoleh kemuliaan Tuhan kita Yesus Kristus”(2Tes. 2:14).
Marilah berdoa:
Tuhan, semoga kami senantiasa memuliakan Engkau dalam kesungguhan hati, ketaatan dan kerendahan hati. Amin.











