“Resep Hidup Abadi”: Renungan, Minggu 1 Agustus 2021

0
1885

Hari Minggu Biasa XVIII

Kel. 6:2-4.12-15; Ef. 4:17.20-24; Yoh. 6:24-35

Mempertahankan hidup merupakan naluri bawaan setiap orang sebagai makhluk hidup. Orang melakukan apa saja untuk mempertahankan hidupnya bahkan sampai mencari mujizat. Dulu banyak orang mengejar Yesus untuk mendapat mujizat. Sekarang pun banyak orang membanjiri ‘Misa penyembuhan’, atau KKR demi mujizat. Mereka yang mendapatnya merasa diri sebagai orang istimewa. Mereka melihat mujizat sebagai jalan untuk mempertahankan hidup dan jaminan untuk transit dari dunia fana ini ke hidup kekal.

Hari ini Tuhan mengoreksi semangat gagal faham tersebut. Allah mengerjakan mujizat bukan untuk memuaskan keinginan hati manusia, tetapi untuk membuka hati dan budi kepada iman. Dengan manna sebagai makanan, “Mereka Kucoba apakah mereka akan hidup menurut hukum-Ku atau tidak.” Ternyata mereka mencari mujizat hanya untuk memuaskan keinginan mereka, kemudian terus hidup tanpa iman dan ketaatan pada Allah. Mereka ingin mempertahankan hidup hanya dengan makanan hasil mujizat. Ternyata tanpa iman dan ketaatan pada Allah, nenek moyang Israel telah makan manna di padang gurun, namun mereka mati tanpa mencapai tanah yang dijanjikan Allah.

Yesus turun dari surga bukan menjadi pemuasan keinginan manusia, tetapi untuk melaksanakan pekerjaan yang dikehendaki Allah. Untuk mencapai hidup kekal setiap orang perlu “Percaya kepada Dia yang diutus Allah” dan melakukan pekerjaan yang dikehendaki Allah. Itulah nutrisi hidup Yesus. Yesus menunjuk makanan yang bertahan sampai hidup yang kekal. “Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku.” Manusia perlu percaya kepada Yesus dan melaksanakan pekerjaan yang dikerjakan-Nya. Itulah kebenaran diri dan hidup Kristus,  sebagai roti hidup yang turun dari surga, percaya kepada Allah, taat dan tekun melakukan pekerjaan-Nya.

Keinginan akan mujizat merupakan nafsu yang menyesatkan. Para pencandu mujizat memperalat Allah untuk mencapai keinginan atau ambisi pribadi. Mujizat harus dilihat sebagai tanda yang menarik orang untuk percaya dan bersatu dengan Allah. Yang mengejar mujizat akan menjadi kenyang kemudian mati. Mereka tidak akan pernah hidup dan tinggal bersama Allah.

Kegilaan akan materi dan nikmat dunia fana membuat orang berlomba mengumpulkan materi sebagai sumber kebahagiaan dan jaminan hidupnya. Untuknya orang menghalalkan segala cara termasuk yang ajaib dengan memperalat nama Tuhan. Motif ini akan membuat orang jadi kaya dan terkenal namun tak akan membawanya masuk hidup kekal. Agar dapat mencapai hidup kekal orang masih perlu bertobat dan percaya kepada Yesus, pelaku pekerjaan Allah setia dan taat, sehingga menjadi Roti Hidup abadi.

(RD. Julius Salettia)

“Tuhan, berikanlah kami roti itu senantiasa” (Yoh. 6:34.)

Marilah berdoa:

Tuhan, berilah kami roti kehidupan kekal dan luputkanlah kami dari nafsu yang menyesatkan. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini