“Buah yang Baik”: Renungan, Rabu 23 Juni 2021

0
2126

Hari Biasa (H)

Kej. 15:1-12,17-18; Mzm. 105:1-2,3-4,6-7,8-9; Mat. 7:15-20

Kitab Kejadian 15:1-12.17-18 mengisahkan tentang perjanjian antara Allah dan Abraham. Awalnya Abraham merasa ragu dan takut, karena ia tidak akan punya keturunan. Tetapi Allah datang kepadanya dan mengatakan kepadanya untuk tidak takut sebab perisainya adalah Allah. Hati Abraham terarah kepada Allah dalam hal kepercayaan, kesetiaan, ketaatan dan penyerahan diri yang tetap. Allah memperhitungkannya sebagai kebenaran atau sesuai dengan kehendak-Nya. Allah pun mengadakan perjanjian dengan Abraham. Perjanjian itu atas inisiatif Allah sendiri dan diterima oleh Abraham dengan imannya. Pengalaman iman Abraham menunjukkan bahwa Allah itu setia. Karena itu, hati kita hendaknya terarah kepada Allah dalam kepercayaan, ketaatan, dan penyerahan diri.

Injil mengisahkan Yesus yang memberikan khotbah tentang hal pengajaran yang sesat. Yesus mengajarkan bahwa kita hendaknya waspada terhadap nabi-nabi palsu, karena mereka berwajah serigala tapi bertopeng domba. Mereka mengaku berbicara atas nama Allah, namun nyatanya mereka membuat umat menjadi jauh dari Allah dan dari segala kebenaran. Mereka menjerumuskan pengikutnya ke dalam pencobaan. Lantas bagaimana kita dapat mengenal mereka? Yesus menggambarkan mereka seperti sebuah pohon, yang dapat dikenal dari buahnya. Mereka menghasilkan buah yang tidak baik. “Buah” tersebut merupakan sifat-sifat buruk yang nampak dalam hidup mereka. Dalam kehidupan sehari-hari, mereka sama seperti orang yang mengakui diri Kristen, tetapi tidak setia kepada Allah dan tidak hidup sesuai Sabda Allah. Karena itu, Yesus menegaskan bahwa pohon yang baik tentu akan menghasilkan buah yang baik pula, sedangkan pohon yang tidak baik akan menghasilkan buah yang tidak baik.

Hal yang sama juga kadang kala kita perbuat. Kita mengakui diri sebagai pengikut Kristus tapi tidak mau memikul salib kehidupan. Mengakui diri anak Allah tapi tidak setia dan mengecewakan hati Allah. Mengakui diri orang beriman yang tahu akan Sabda Allah, tetapi dalam hidup sehari-hari sering mencela dan melukai hati sesama. Dengan sikap seperti itu, mari kita bertanya: “Apakah kita layak dan pantas menyebut diri sebagai pengikut Kristus?” Melalui Injil hari ini, Yesus mengajak kita untuk menjadi pohon yang baik, agar dapat menghasilkan buah yang baik. Pohonnya ialah pribadi kita dan buahnya ialah sifat-sifat baik kita. kita renungkan dan hayati Sabda Allah, serta percaya akan rencana dan kehendak-Nya dalam kehidupan kita. Marilah kita menjadi pengikut Kristus yang setia mengamalkan ajaran-ajaran-Nya dalam kehidupan kita.

 (Fr. Giovanny Diamanti)

“Dari buahnyalah kalian akan mengenal mereka”

 (Mat. 7:16).

Marilah berdoa:

Tuhan, bantulah kami agar mampu menghasilkan buah yang baik. Amin.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini