“3 Tiang Penonggak Kehidupan”: Renungan, Rabu 20 Juni 2018

0
2517

♦Hari Biasa (H).

2Raj. 2:1,6-14; Mzm. 31:20,21,24; Mat. 6:1-6,16-18. 

Dalam kehidupan sehari-hari banyak dari kita pernah mengalami betapa pentingnya  landasan dan motivasi,  visi dan misi kehidupan. Untuk itu kita menyusun rencana ke depan. Semuanya demi hari esok yang cerah. Artinya, untuk sampai pada tujuan tertentu, patutlah kita melihat segala aspek terutama dasar dan tonggak kehidupan kita.

Bacaan yang telah kita dengar mengandung 3 hal ini, yaitu berdoa, berpuasa dan memberi sedekah. Mengapa Yesus mengingatkan kepada murid-murid-Nya tentang pentingnya “berdoa, berpuasa, dan memberi sedekah”? Bagi orang-ornag Yahudi pada waktu itu, ketiga hal tersebut menjadi bagian utama dalam hidup keagamaan. Dengan menjalankan tiga hal tersebut, seseorang dapat dikatakan sebagai orang yang saleh. Ketiga hal tersebut juga menjadi tiang bagi kehidupan yang baik.

Yesus justru menekankan lebih kepada hati sebagai inti dari berdoa, berpuasa dan berderma. Ia bahkan menantang para murid-Nya dengan bertanya: mengapa kamu berdoa, berpuasa dan memberi sedekah? Apakah ketiga hal tersebut dibuat agar orang lain dapat melihatnya dan menaruh rasa hormat yang tinggi kepadamu? Ataukah hal itu dilakukan demi kemuliaan Allah?

Yesus mengingatkan kepada pada murid-Nya untuk pertama-tama tidak mencari kemuliaan bagi diri sendiri. Kesalehan yang sejati adalah sesuatu yang lebih dari apakah orang lain memandang engkau baik dan menganggap engkau kudus. Kesalehan sejati adalah kesetiaan yang penuh cinta kepada Allah.

Hal itu menjadi suatu sikap kagum, penghormatan yang mendalam, penyembahan dan ketaatan yang total. Hal itu merupakan suatu hadiah dan karya Roh Kudus yang menyanggupkan kita untuk bertekun dan setia kepada Allah dengan hasrat yang kudus demi mempersilahkan Allah dalam segala situasi dan kondisi hidup kita.

Dari sanalah terdapat ganjaran. Ganjarannya adalah persatuan dengan Allah Bapa kita. Hanya di dalam Allah, kita menemukan kepenuhan kehidupan dan kebahagiaan, kebenaran dan cinta serta kegembiraan.

Santo Agustinus dari Hippo pada abad ke-4 menulis doa berikut “apabila aku secara sempurna dipersatukan dengan Dikau, Ya Allah, di sana tak akan ada lagi duka nestapa, atau godaan; hanya dinaungi spenuhnya oleh Dikau, hidup akan menjadi sempurna.” Tuhan mengganjar mereka yang mencari Dia dalam kerendahan hati dan hati yang bertobat. Ia membarui kita setiap hari dan memberikan kita hati yang baru, yang mencintai dengan penuh gembira dan dermawan.

Kita tentu ingin bertumbuh di jalan keselamatan ini, maka carilah Tuhan dengan penuh harapan dalam doa; dengan berpuasa dan dalam kemurahan hati dalam memberi kepada mereka yang sungguh-sungguh membutuhkan uluran tangannya.

(Fr. Yakobus Weridity)

“Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka, karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di surga” (Mat. 6:1).

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, semoga aku mempraktekkan kewajiban-kewajiban agamaku dengan hati yang murni.

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini