Pw. S. Filipus Neri, Im (P)
Sir. 36:1, 4-5a, 10-17; Mzm. 79:8,9,11,13; Mrk. 10:32-45.
Renungan hari ini menghantar kita pada sebuah kesadaran akan pentingnya untuk menjadi “seorang pelayan”. Secara manusiawi, kita sering menghindari spirit untuk menjadi “seorang pelayan”, karena merasa diri rendah dan tidak bernilai. Akan tetapi, pada hari ini Kristus mengingatkan kembali akan pentingnya untuk hidup menjadi pelayan dan bahkan menjadi seorang hamba untuk sesama.
Dalam bacaan Injil, dikisahkan tentang Yakobus dan Yohanes yang meminta kepada Kristus agar kelak mereka dapat duduk di sebelah kanan dan di sebelah kiri-Nya. Nampaknya mereka menunjukkan kecenderungan manusiawi yang ingin mendapat keistimewaan di hadapan Yesus. Namun Yesus bersabda demikian, “Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya” (Mrk. 10:43-44).
Yesus memandang manusia istimewa itu ialah tidak menjadi seorang pemimpin yang berada di atas orang lain dan berkuasa atas mereka, melainkan menjadi seorang pelayan yang melayani di antara sesama dan bahkan menjadi seorang hamba bagi sesamanya.
Menjadi seorang pelayan dan hamba bukan untuk menunjukkan kerendahan diri melainkan sebagai tindakan mengikuti kehendak dan teladan dari Kristus. Kehendak dan teladan tersebut diungkapkan Yesus dalam firman-Nya bahwa kedatangan-Nya di dunia sebagai manusia itu bukan untuk dilayani melainkan datang sebagai pelayan bagi banyak orang. Agar dalam penderitaan dan kematian-Nya, kita diampuni dari dosa-dosa dan kemudian diselamatkan.
Bacaan pertama pun menunjukkan pentingnya menjadi pelayan bagi Allah. Tindakan menjadi pelayan yang sejalan dengan bacaan Injil ialah mengenai pentingnya mengikuti perintah Allah. Tampil di hadirat Tuhan dan menjadi seorang hamba perlu adanya persiapan diri. Dengan kata lain, pelayan tidak “tampil di hadirat Tuhan dengan tangan yang kosong”.
Persiapan diri menjadi tanda bakti kepada Tuhan. Tak hanya itu, cinta kasih Allah yang begitu besar pun menyelamatkan orang-orang yang dengan sungguh berpegang dan mencurahkan permohonan kepada-Nya. Semoga kita senantiasa menyadari bahwa tampil sebagai murid Kristus, perlu pula untuk mengikuti firman dan teladan-Nya, yaitu dengan menghidupi semangat pelayanan bagi Allah dan bagi sesama. Agar kelak kita memperoleh keselamatan dalam Kristus.
(Fr. Valentino Alexandro Wullur)
“Dari Injil itu aku telah menjadi pelayannya menurut pemberian kasih karunia Allah, yang dianugerahkan kepadaku sesuai dengan pengerjaan kuasa-Nya” (Ef. 3:7).
Marilah berdoa:
Ya Tuhan, jadikanlah aku layak menjadi pelayan-Mu yang senantiasa mengikuti teladan-Mu dan berada di jalan yang Engkau sediakan bagiku. Amin.











