“Ketaatan Membawa Keselamatan” Renungan Jumat, 02 April 2021

0
1981

Hari Jumat Agung (M)

Yes. 52:13-53:12; Mzm. 31:2,6,12-13,15-16,17,25; Ibr. 4:14-16; 5:7-9; Yoh. 18:1-19:42

Jumat Agung merupakan sebuah peristiwa yang sangat bersejarah bagi umat Kristen di dunia. Hal ini dikarenakan pada peristiwa ini, Yesus secara total menyerahkan diri-Nya untuk menderita, sengsara dan pada akhirnya wafat di salib. Pertanyaan yang muncul ialah mengapa seorang Anak Allah dapat wafat di salib? Hal ini bukanlah sebuah kebetulan, melainkan bagian dari karya keselamatan Allah bagi manusia.

Dalam bacaan pertama, nabi Yesaya mengatakan secara jelas peristiwa yang akan dialami oleh Yesus sendiri. “Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas oleh Allah”.

Peristiwa sengsara dan wafat dari Yesus telah dinubuatkan oleh nabi Yesaya jauh sebelumnya.  Banyak orang yang hadir saat penyaliban Yesus beranggapan bahwa peristiwa penyaliban tersebut merupakan hukuman yang wajib ditanggung oleh Yesus yang menganggap diri sebagai Anak Allah. Padahal, peristiwa salib merupakan saat dimana Yesus menanggung segala dosa dan kesalahan umat manusia atau sebagai kurban penebusan dosa manusia. Yesus dilambangkan sebagai anak domba yang dibawa ke tempat pembantaian.

Pada bacaan Injil digambarkan dengan jelas proses penangkapan, penyiksaan, penerimaan hukuman mati, penyaliban, dan bahkan wafat dari Yesus. Via dolorosa yang dilalui oleh Yesus menggambarkan ketaatan yang luar biasa dari Yesus. Ketaatan akan Bapa dan kasih yang besar bagi manusia menguatkan Yesus untuk melalui jalan penderitaan. Puncak dari jalan penderitaan ialah wafat-Nya di salib.

Hal yang perlu diketahui bersama bahwa Allah tidak menghendaki kematian. Akan tetapi, kematian merupakan konsekuensi dari Allah yang mengasihi manusia. Kasih yang luar biasa itulah yang ditunjukkan oleh Yesus dalam jalan kesengsaraan-Nya.

Konseskuensi dari ketaatan dan kasih yang luar biasa ialah keselamatan bagi manusia dan Yesus diangkat menjadi Imam Besar.

Bacaan kedua yang diambil dari surat kepada orang Ibrani mengatakan dengan jelas bahwa “Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, ia telah dicobai, hanya tidak berdosa”.

Yesus Sang Imam Besar itu menebus dosa manusia dengan kasih yang begitu besar yang ditunjukkan-Nya pada ketaatan-Nya melalui jalan kesengsaraan. Maka, marilah kita hidup sesuai dengan kehendak Allah. Agar, kematian Yesus tidak menjadi sia-sia melainkan telah menjadi berkat bagi kita semua.

Fr Fernando Letsoin

“Dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh.” (Yes 53: 5c)

Marilah berdoa:

Tuhan Yesus, terimalah diri kami sebagai persembahan demi kemuliaan Nama-Mu. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini