“Rendah Hati & Percayalah”: Renungan, Jumat 26 Maret 2021

0
2264

“Rendah Hati & Percayalah”: Renungan, Jumat 26 Maret 2021

Hari biasa Pekan V Prapaskah (U).

Yer. 20:10-13; Mzm. 18:2-3a,3bc-4,5-6,7; Yoh. 10:31-42

Ada satu cerita tentang anak kerang di dasar laut, yang terus mengeluh pada ibunya karena sebutir pasir masuk dalam tubuhnya. Ibunya berkata kepadanya, “Anakku, bangsa kita diciptakan tanpa tangan, maka ibu tidak dapat membantumu, sebab itu kuatkanlah hatimu dan kerahkanlah semangatmu untuk melawan rasa sakit itu”. Makhluk lain di sekitarnya meremehkan dan menertawakan anak kerang itu. Akan tetapi anak kerang tesebut melakukan nasihat ibunya, walaupun kadang kala ia ragu karena rasa sakit yang diderita. Namun tanpa disadari sebutir mutiara mulai terbentuk dalam tubuhnya dan terus membesar seiring berjalannya waktu. Semakin besar mutiaranya, kesakitannya semakin tak terasa. Akhirnya, sesudah sekian tahun, sebutir mutiara besar, mengkilap dan berharga mahal terbentuk dengan sempurna dalam tubuhnya.

Cerita tersebut mau menggambarkan bahwa dalam menjalani kehidupan, kita membutuhkan kepercayaan dan kerendahan hati. Terkadang kita mengalami kesulitan tapi tidak mau mendengarkan orang lain. Di lain waktu, kita mendengar perkataan orang lain tetapi tidak melaksanakannya. Mengapa bisa begitu? Mungkin saja menurut kita masukan mereka tidak masuk akal atau pun menyakitkan bagi kita.

Bacaan-bacaan Kitab Suci hari ini mengajak kita untuk tetap rendah hati dan selalu percaya kepada Tuhan. Percaya kepada-Nya berarti siap menjalankan kehendak-Nya. Apa itu kehendak Tuhan? Kehendak Tuhan ialah sesuatu yang baik dan benar, yang menuntun kita untuk hidup bahagia. Bagaimana kita mencapai kebahagiaan itu? Nabi Yeremia memberi contoh kepada kita. Yeremia mendapat kebahagiaan karena kepercayaan penuh pada kehendak Allah. Meskipun ia mengalami keluh kesah, tidak disukai banyak orang, tapi ia tetap percaya bahwa Allah menyertainya. Dengan rendah hati ia terus berharap pada Allah (Yer. 20: 10-13).

Seperti Yeremia yang mengalami penolakan, Yesus ditolak oleh orang-orang Yahudi. Walaupun demikian, Ia tetap rendah hati. Yesus mau dilempari batu, namun Ia tidak membalas perbuatan mereka. Ia tetap percaya akan karya perutusan-Nya. Ia malah berusaha meyakinkan mereka bahwa perbuatan baik-Nya berasal dari Bapa.

Marilah kita senantiasa menaruh kepercayaan penuh kepada Tuhan dan selalu berusaha menjadi pribadi yang rendah hati. Kadang kala hidup kita susah, namun kita harus selalu percaya pada rencana Tuhan. Sabda Tuhan selalu baik dan benar, dan itulah yang menuntun kita pada kebahagiaan sejati.

(Fr. Glandy Tambingon)

 

“Percayalah akan pekerjaan-pekerjaan itu, supaya kamu boleh mengetahui dan mengerti, bahwa Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Bapa” (Yoh. 10: 38b).

 

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, anugerahilah kami kerendahan hati dan teguhkanlah iman kami kepada-Mu. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini