“Menjadi Kabar Sukacita”: Renungan, Kamis 25 Maret 2021

0
2608

Hari Raya Kabar Sukacita (P)

Yes. 7:10-14; 8:10; Mzm. 40:7-8a,8b-9,10,11; Ibr. 10:4-10; Luk. 1:26-38.

 

Sembilan bulan sebelum perayaan kelahiran Yesus, yakni pada tanggal 25 Maret, kita merayakan hari penjelmaan-Nya. Hari ini Gereja merayakan Hari Raya Kabar Sukacita. Allah menyampaikan kabar gembira kepada Bunda Maria melalui perantaraan Malaikat Gabriel. Maria dipilih Allah untuk mengandung Yesus, Anak Allah. Dengan pasrah dan percaya akan Allah, Maria menjawab, “Terjadilah padaku menurut perkataanmu.”

Akan tetapi peristiwa iman ini bukanlah tanpa persoalan. Pada saat itu Maria sementara bertunangan dengan Yusuf, mempelainya yang kudus. Berita ini memunculkan banyak persoalan. Namun, Maria tetap bersedia menjalani peran khusus dalam karya penyelamatan Allah bagi seluruh dunia. Dia pasrah pada kehendak Allah.

Berita tentang seorang perempuan yang akan melahirkan Penyelamat sudah dinubuatkan oleh Nabi Yesaya dan terpenuhi dalam diri Bunda Maria. Dalam Yes. 7:14 dikatakan: “Sesungguhnya, seorang perempuan muda akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan ia akan menamakan Dia Imanuel”.

Kristus adalah kabar sukacita bagi umat manusia. Dia adalah Imanuel, yang berarti Allah menyertai kita. Dalam Ibrani 10: 4-10, diungkapkan bahwa Yesus adalah Imam Agung sekaligus Kurban yang sempurna. Dialah Penyelamat yang membawa kehendak Tuhan dan menjadi Kurban penghapus dosa. Kristus adalah Kurban kudus dan Pengantara sejati. Dialah Injil hidup dalam rupa manusia dan yang melampaui semua suka dan duka manusiawi. Dialah yang membuat kita tetap berharap dan bahagia walaupun beban hidup menghimpit kita.

Sebagai umat beriman kita semua memiliki panggilan yang sama dengan Maria. Kita dipanggil untuk mengandung dan melahirkan Yesus dalam cara berbicara dan perbuatan kita sehari-hari. Maka untuk dapat melaksanakan panggilan tersebut, mari kita belajar dari Bunda Maria. Kita belajar tentang ketaatan darinya. Maria dipanggil untuk menjadi pribadi yang taat di hadapan Allah. Ia menanggapi tawaran kasih Allah dengan mengungkapkan janji setia pada rancangan Allah. Seperti yang dilakukan Bunda Maria, kita pun perlu taat pada Allah, agar kita memperoleh keselamatan. Bahkan hal yang sama telah dilakukan oleh Yesus Kristus sendiri. Ia taat pada rencana keselamatan dan karena ketaatan-Nya itu, Ia rela menderita, dihina, dicaci maki, dipukul, bahkan sampai wafat di kayu salib. Dengan ketaatan itu, Yesus Kristus membawa keselamatan bagi seluruh umat manusia.

 

(Fr. Marciano Pantow)

 

“Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan terjadilah padaku menurut perkataanmu”

(Luk. 1:38).

 

Marilah berdoa:

Ya Bapa, bantulah kami agar taat dalam menanggapi dan menjalani panggilan untuk mewartakan kabar sukacita, sehingga kami membawa keselamatan bagi banyak orang. Amin.

 

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini