Hari Biasa Pekan V Prapaskah (U)
Bil. 21:4-9; Mzm. 102:2-3,16-18,19-21; Yoh. 8:21-30
Pernahkah anda pergi ke suatu tempat atau bangunan yang pemiliknya adalah orang Katolik? Pernahkah anda menyadari bahwa ada hal yang sama dan khas Kristiani yang kita temui? Apa itu? Ya, Corpus atau palang salib dengan tubuh Yesus yang tergantung tinggi di salah satu sisi rumah. Apa maksudnya tergantung tinggi? Maksudnya bahwa hidup kita sebagai Orang Kristiani selalu tergantung kepada Yesus apapun keadaan hidup kita, meski untung maupun malang, Yesus akan selalu memperhatikan kita yang percaya kepada-Nya.
Injil hari ini mengisahkan Yesus yang berkata kepada orang banyak bahwa Ia bukan berasal dari dunia ini dan yang percaya kepada-Nya akan tetap hidup. Sebaliknya, yang tidak percaya akan mati karena dosa. Lalu orang-orang itu bertanya kepada-Nya tentang siapa Dia. Yesus menjawab dengan berkata bahwa Dia adalah Anak yang diutus Allah, yaitu Bapa-Nya sendiri. Dan setelah menjelaskan itu, banyak orang Yahudi yang ragu-ragu itu percaya kepada-Nya.
Hal yang kurang lebih sama juga diceritakan dalam bacaan pertama. Dikisahkan tentang orang Israel yang tidak lagi percaya kepada Allah dan bersungut-sungut. Mereka mencobai Allah. Lalu karena dosa itu, Allah menghukum mereka dengan ular-ular tedung berbisa yang memagut mereka hingga banyak dari mereka yang mati. Allah menyuruh Musa membuat ular tedung tembaga dan berpesan bahwa jika yang terpagut memandang ular tembaga itu maka ia akan hidup. Kemudian Musa membuat hal itu dan terjadilah demikian. Mereka yang terpagut ular tetap hidup dengan memandang ular tembaga itu.
Pesan apa yang dapat kita ambil dari kedua bacaan Kitab Suci hari ini? Bagi saya, kita dapat menemukan pesan yang istimewa. Kita harus menaruh kepercayaan kepada Yesus Sang Putera Allah, sebab hidup kita seperti orang Israel yang banyak kali tidak percaya kepada Allah bahkan tak jarang disertai dengan sungut-sungut atas kehidupan.
Pada masa-masa pertobatan ini, kita harus mempersiapkan diri dengan menengadah kepada Yesus yang tersalib karena keberdosaan kita. Mari kita membiasakan diri setiap hari, paling kurang semenit untuk memandang salib Tuhan kita. Kita percaya pada lindungan-Nya, selalu berserah pada-Nya agar kita dapat bangkit bersama-sama dengan-Nya.
(Fr. Prawian Bea)
“Dan Ia, yang telah mengutus Aku, Ia menyertai Aku” (Yoh. 8:29a).
Marilah berdoa:
Ya Tuhan, semoga kami selalu berserah kepada-Mu. Amin.











