Hari Biasa Pekan V Prapaskah (U)
Dan. 13:41c-62; Mzm. 23:1-3a,3b-4,5,6; Yoh. 8:1-11
Kebanyakan dari kita tentu sering diajarkan sejak masih kanak-kanak untuk mengasihi tanpa menyombongkan diri. Apabila kita tidak mampu menyesuaikan diri dengan apa yang diharapkan, terkadang ada perasaan yang muncul kalau kita termasuk orang yang kurang mampu.
Kita seringkali lupa bahwa sebenarnya diri kita bisa menjadi yang terbaik dan tidak mungkin kita menunjukkan kebodohan kita di hadapan semua orang. Misalnya, apakah kita berani menunjukkan nilai studi kita yang jelek kepada orangtua? Kita pasti sudah membayangkan bahwa setelah nilai itu diberikan kepada orangtua maka pasti kita dimarahi atau dihukum.
Bacaan-bacaan hari ini menggambarkan diri kita sendiri terutama mengenai sikap dan perbuatan kita terhadap orang lain. Bagaimana kita menilai orang lain ketika mereka melakukan kesalahan tanpa adanya bukti yang jelas? Injil Yohanes mengisahkan dengan sangat menarik tindakan Yesus terhadap wanita yang kedapatan berbuat zinah. Adalah para ahli Taurat dan orang Farisi yang menangkap perempuan itu dan membawanya kepada Yesus agar segera menghukumnya. Melempari batu kepada perempuan itu dinilai sebagai hukuman yang sesuai bagi tindakannya. Di satu sisi, mereka sebenarnya mau menguji bagaimana Yesus menanggapi persoalan ini.
Mereka membawa perempuan itu kepada Yesus, namun Yesus memberikan respon yang lain atas tindakan mereka. Yesus mengatakan bahwa jika mereka merasa tidak berdosa silahkan lempari perempuan itu dengan batu. Mendengar perkataan itu, maka timbullah kesadaran dalam diri mereka. Satu per satu mulai melepaskan batu dari genggaman tangan mereka dan pergi meninggalkan perempuan itu bersama Yesus.
Dari peristiwa tersebut, akhirnya kita disadarkan bahwa ternyata yang membedakan Yesus dengan para pemimpin agama pada waktu itu yakni kehadiran-Nya. Yesus hadir sebagai manusia yang dalam situasi apapun dapat mengasihi siapa saja tanpa memandang kelebihan dan kekurangan.
Dalam bacaan pertama dikisahkan bagaimana kuatnya iman dari Susana dan keberanian dari Daniel untuk menegakkan kebenaran sesuai kenyataan yang terjadi. Orang tua-tua yang berdusta akhirnya dijatuhi hukuman mati karena membohongi semua orang hanya untuk menjatuhkan Susana.
Sebagai manusia yang lemah, janganlah samakan diri kita dengan para ahli Taurat, orang Farisi dan kedua hakim itu karena mereka dianggap munafik di hadapan Allah. Belajarlah dari Susana yang tetap kuat mempertahankan imannya dan tentu belajar dari Yesus yang selalu mengasihi sesama di situasi apapun. Apabila kita dapat mengasihi diri kita yang berdosa maka orang lain yang berdosa pun dapat dikasihi. Itulah yang disebut cinta.
(Fr. Stanislaus Lerebulan)
“Pergilah dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang” (Yoh. 8:11c).
Marilah berdoa:
Ya Tuhan, bantulah kami agar mampu mengasihi diri kami dan orang lain. Amin.











