“Salib Keselamatan”: Renungan, Minggu 21 Maret 2021

0
2377

Hari Minggu Prapaskah V (U)

Yer. 31:31-34; Mzm. 51:3,4,12-13,14-15; Ibr. 5:7-9; Yoh. 12:20-33

Bagi orang Yahudi salib adalah suatu batu sandungan dan bagi orang Yunani Salib adalah suatu kebodohan (Bdk. 1Kor.1:23). Orang Yahudi mendasarkan segala sesuatu pada Taurat, sehingga menilai Salib sebagai batu sandungan. Sementara orang bukan Yahudi, terlebih orang Yunani, mewakili orang-orang yang menekankan logika dan bukti ilmiah, menganggap Salib sebagai kebodohan.

Masa Prapaskah telah memasuki pekan V dan dalam tradisi Gereja Katolik, Salib dan patung-patung orang kudus mulai diselubungi dengan kain. Hal ini menandakan bahwa kita semakin dekat dengan perayaan peristiwa sengsara Tuhan. Pekan-pekan Prapaskah sebelumnya bernuansa pertobatan dan mulai pekan ini sampai Pekan Suci, kita diajak untuk lebih merenungkan tentang sengsara Tuhan Yesus.

Dalam Injil, Tuhan Yesus berkata: “Telah tiba saatnya Anak Manusia dimuliakan.” Bapa sendiri meneguhkan perkataan-Nya lewat suara yang terdengar dari surga: “Aku telah memuliakan-Nya dan Aku akan memuliakan-Nya lagi!” Dengan keteguhan hati, Tuhan Yesus tahu benar bahwa waktu penyelamatan telah tiba. Lalu bagaimana caranya kemuliaan Tuhan ditampakkan? Ini yang sering menjadi perdebatan bagi orang yang tidak percaya. Apa yang menjadi batu sandungan bagi orang Yahudi dan kebodohan bagi orang Yunani, menjadi jalan penampakan kemuliaan Tuhan. Tuhan Yesus mati di salib, kemudian Ia bangkit dan mengalahkan maut. Salib menjadi tanda kemenangan Kristus dan keselamatan manusia.

Peristiwa kematian dan kebangkitan Tuhan Yesus menghapuskan dosa-dosa manusia, sekaligus memberikan jaminan keselamatan. Walaupun manusia selalu jatuh dalam dosa, Tuhan senantiasa mengasihi dan menyelamatkannya. Dahulu nenek moyang Israel berkeras hati dan memberontak kepada Allah, namun Allah tidak menghancurkan mereka. Malahan Allah memaafkan-nya dan membuat perjanjian baru dengan mereka. Sejak dahulu Allah selalu baik bagi manusia. Tuhan Yesus pun demikian, sehingga Ia mengusahakan keselamatan yang melampaui ruang dan waktu. Keselamatan tersebut berlaku bagi nenek moyang kita, bagi kita saat ini dan bahkan bagi generasi yang akan datang.

Keselamatan telah ditawarkan. Sekarang tergantung kita sendiri, apakah mau menerima atau menolaknya. Bila ingin menerimanya, mari kita bersama-sama ditinggikan di Salib bersama Tuhan Yesus. Bagi manusia zaman sekarang, ditinggikan di salib tidak lain yakni rela memberikan hidup bagi sesama yang kesulitan. Mari saling menolong satu sama lain. Mari melayani Tuhan dengan melayani sesama, sehingga kita layak untuk ditinggikan bersama dengan Tuhan Yesus.

(Fr. Theo Palit)

“Aku telah memuliakan-Nya dan Aku akan memuliakan-Nya lagi!” (Yoh. 12:28b)

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, bantulah aku agar dapat melayani-Mu lewat sesama manusia, sehingga di mana Engkau berada, aku pun berada. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini