“Beriman Secara Penuh”: Renungan, Senin 15 Maret 2021

0
3054

Hari Biasa Pekan IV Prapaskah

Yes. 65:17-21; Mzm. 30-2,4,5-6,11-12a,13b; Yoh. 4:43-54

Bacaan-bacaan harian sesudah hari Minggu “laeterae” berurutan mulai dari Injil Yohanes 4 sampai 12, yang bertujuan mempersiapkan kita iman kita untuk Tri hari suci, atau puncak karya penciptaan baru Allah, di mana semua dibaharui seperti yang dinubuatkan dalam kitab Yesaya hari ini. Dalam persiapan itu, Injil hari ini pun mengajak kita untuk membandingkan sikap orang Galilea, orang Yahudi di Nazaret, dan sikap seorang pegawai.

Sebagai pengikut Kristus di zaman sekarang, kita terbiasa untuk percaya berdasarkan bukti. Bukti pembayaran, bukti pinjaman, bukti kepemilikan, dan bahkan bukti bahwa kita pernah dilahirkan. Kepercayaan didasarkan pada sesuatu terlebih dahulu. Tentu hal itu tidak salah namun pola pemikiran percaya dengan berdasarkan bukti, seperti sikap orang-orang Galilea yang percaya karena telah melihat mukjizat sebelumnya pun terkadang mempengaruhi cara kita beriman pada Kristus.

Karena menuntut bukti tak jarang kita kecewa dan jatuh pada penolakan terhadap imannya seperti orang-orang Nazaret. Misalnya, dalam doa kita merasa telah berdoa dan berusaha semaksimal mungkin, namun Tuhan seakan diam dan tidak tampak hadir membantu kita. Hal sedemikian akhirnya berujung pada kekecewaan. Seolah-olah Tuhan tak menunjukkan bukti bagi kita berupa jawaban atas doa tersebut.

Lewat bacaan-bacaan hari ini, kita diminta untuk senantiasa menjaga iman. Iman yang kokoh sebagaimana ditunjukkan oleh pegawai istana. Pertama, kita harus berusaha maksimal, seperti pegawai istana yang datang dari Kapernaum sejauh 26 km ke Kana. Kedua, kita harus teguh dalam menghadapi tantangan, seperti pegawai istana yang tetap memohon pertolongan Yesus sekalipun Yesus menantang dia dengan berkata “Jika engkau tidak melihat tanda mukjizat engkau tidak akan percaya”. Dan yang terakhir iman yang tak meminta bukti. Seperti iman pegawai istana yang tanpa bertanya bagaimana atau buktinya apa, mengikuti kata-kata Yesus untuk segera kembali ke Kapernaum. Dan anaknya sembuh karena iman sedemikian.

Beriman menuntut adanya sikap hidup dalam diri kita. Sebagaimana digambarkan oleh seorang pegawai istana yang anaknya sakit. Kita pun kadang menuntut agar Tuhan memberi apa yang kita minta sampai memperoleh suatu ‘bukti’ atau tanda. Maka hari ini kita diingatkan untuk senantiasa beriman secara penuh. Beriman bukan setengah-setengah atau hanya karena ada sesuatu, melainkan sebagai suatu persembahan hidup bagi Tuhan.

(Fr. Paulus Gino Wuisan)

 “Tuhan Allahku, kepada-Mu aku berteriak minta tolong, dan Engkau telah menyembuhkan aku” (Mzm. 30: 3).

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, mampukanlah kami untuk tetap setia mengimani Kristus Putera-Mu, dalam suka, maupun duka perjalanan hidup kami. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini