“Buka Hati Untuk Tuhan!”: Renungan, Kamis 11 Maret 2021

0
5125

Hari biasa Pekan III Prapaskah (U)

Yer. 7:23-28; Mzm. 95:1-2,6-7,8-9; Luk. 11:14-23.

Setiap orang tentu pernah mengalami rasa tidak disukai oleh orang lain, entah teman dekat, sahabat, saudara, kenalan atau pun orang yang tidak kita kenal. Ketika perasaan tidak suka muncul, orang akan cenderung memperhatikan semua kekurangannya dari pada kebaikannya. Sebaik apa pun tindakan yang dilakukan, pasti selalu dipandang salah atau dipandang tidak baik oleh orang lain.

Tindakan kebaikan dan kuasa Yesus bagi orang Farisi dianggap tidak baik. orang-orang Farisi menuduh tindakan penyembuhan dari Yesus adalah suatu tindakan yang berasal dari setan (Beelzebul). Mereka menolak dan berusaha untuk mencobai Yesus. Tetapi Yesus tidak tinggal diam. Yesus kemudian memberikan pengertian dengan berkata, “Setiap kerajaan yang terpecah-pecah pasti binasa dan setiap rumah tangga yang terpecah-pecah pasti runtuh. Jikalau iblis itu juga terbagi-bagi, dan melawan dirinya sendiri, bagaimanakah kerajaannya dapat bertahan?

Kisah dalam bacaan Injil hari ini menekankan keterbukaan hati. Keterbukaan hati bagi siapa pun entah teman, saudara, kerabat, atau pun kenalan. Tapi yang paling utama ialah keterbukaan hati untuk menerima kebaikan Tuhan dalam hidup. Orang yang tidak membuka hatinya bagi Tuhan berarti ia memisahkan diri dari Tuhan. Tindakan orang Farisi menunjukkan hati yang tertutup bagi Tuhan. Untuk itu Tuhan berkata, “Siapa tidak bersama Aku, ia melawan Aku dan siapa tidak mengumpulkan bersama Aku, ia menceraiberaikan.”

Hal yang sama ditekankan Tuhan kepada Yeremia. Ia menghendaki agar setiap orang membuka hati untuk mendengarkan suara-Nya sebagaimana yang difirmankan-Nya “Dengarkanlah suara-Ku, maka Aku akan menjadi Allahmu dan kamu akan menjadi umat-Ku, dan ikutlah seluruh jalan yang Kuperintahkan kepadamu, supaya kamu berbahagia!”

Masa Prapaskah ini menjadi kesempatan indah  bagi setiap orang untuk merenungkan dan merefleksikan perjalanan hidupnya. Apakah hati sudah terbuka untuk menerima Tuhan  hadir dalam diri kita? Ataukah masih memiliki hati yang keras sama seperti orang-orang Farisi yang menolak kebaikan Tuhan? Jangan takut untuk membuka hati bagi Tuhan sebab Ia sabar dan setia menantikan umat-Nya.

(Fr. Gerren Maweikere)

Siapa tidak bersama Aku, ia melawan Aku dan siapa tidak mengumpulkan bersama Aku, ia menceraiberaikan.” (Luk. 11:23)

Marilah berdoa:

Tuhan, mampukanlah aku untuk membuka hati menerima Engkau dalam diriku dan menjadikan Engkau sebagai juru mudi dalam hidupku. Amin.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini