“Belas Kasih Allah”: Renungan, Selasa 9 Maret 2021

0
1900

Hari biasa Pekan III Prapaskah (U)

Dan. 3:25,34-43; Mzm. 25:4bc-5ab,6-7bc,8-9; Mat. 18:21-35.

Bacaan Injil hari ini melukiskan figur Allah yang baik hati dan penuh belas kasih. Jawaban Yesus pada Petrus bahwa ia harus mengampuni orang yang bersalah kepadanya sampai tujuh puluh kali tujuh kali berarti bahwa kita harus senantiasa mengampuni orang yang bersalah pada kita. Sedangkan, simbol raja baik hati yang mengampuni dan membebaskan hambanya dari hutang 10.000 talenta, melukiskan betapa besarnya kebaikan dan kasih Allah kepada manusia.

Yesus mengharapkan agar kita mampu meneladani-Nya. Ia telah memberi contoh dengan wafat di salib. Harga yang sangat mahal sebagai tebusan hutang dosa kita.

Azarya dan dua orang temannya yang dikisahkan oleh Daniel berhasil memenuhi harapan Allah. Mereka setia dan taat pada Allah serta melakukan segala perintah-Nya. Mereka beroleh belas kasih dan pertolongan yang menyelamatkan hidup mereka dari perapian membara yang dibuat para prajurit Nebukadnezar. Bila kita mampu seperti mereka maka yang akan kita terima ialah belas kasih dan pertolongan serta keselamatan yang dari Allah.

Jika kita tidak memenuhi harapan dan mengikuti teladannya itu, maka nasib kita akan sama dengan hamba yang jahat. Ia telah menerima pengampunan yang begitu besar dari rajanya, tapi tidak dapat berbelas kasih terhadap temannya, yang hanya berhutang 100 dinar kepadanya. Ia telah mengecewakan sang raja, yang berharap agar hamba itu bisa melakukan perbuatan yang sama seperti yang dilakukan sang raja. Ia akhirnya diserahkan kepada para algojo sampai ia melunaskan seluruh hutangnya.

Dosa terhadap manusia itu tak seberapa bila dibandingkan dosa terhadap Allah. Tapi “Allah tetap mengampuni” manusia berdosa yang menyesal dan bertobat. Pertanyaannya: apakah kita mampu meneladani sikap Allah yang ditunjukkan dalam pribadi Yesus itu? Mampukah kita memaafkan dan berbelas kasih kepada orang yang berdosa kepada kita? Sungguh ironis kalau kita berkata tidak. Allah saja berkenan memaafkan manusia yang berdosa pada-Nya, masakan kita tidak bisa? Mari kita saling mengampuni sebagaimana Allah telah mengampuni kita. Kasih Allah begitu besar kepada kita. Untuk itu mari kita saling menunjukkan kasih kepada sesama kita.

 (Fr. Antonius Braien El)

“Lalu tergeraklah hati raja itu oleh belas kasihan akan hamba itu, sehingga ia membebaskannya dan menghapuskan hutangnya” (Mat. 18:27).

Marilah berdoa:

Ya Bapa, penuhilah diriku dengan belas kasih-Mu selalu dan tolonglah aku untuk berbelas kasih terhadap sesamaku seperti Putera-Mu. Amin.

 

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini