“Pikiranmu Menyelamatkanmu”: Renungan, Rabu 3 Maret 2021

0
1727

Hari biasa Pekan II Prapaskah (U)

Yer. 18:18-20; Mzm. 31:5-6,14,15-16; Mat. 20:17-28.

 

Dalam tradisi Yahudi, Mesias indentik dengan kemuliaan dan kekuasaan. Bagi orang Yahudi, seorang Mesias adalah ia yang mampu membebaskan bangsa Yahudi dari penjajah dan mengembalikan kejayaan mereka seperti zaman raja Daud. Akan tetapi, Yesus yang disebut Mesias justru berbanding terbalik dengan apa yang diharapkan oleh orang-orang Yahudi. Yesus yang diharapkan sebagai seorang penyelamat justru menubuatkan kematian-Nya sendiri. Pikiran keyahudian ini tergambar dengan jelas di dalam keinginan ibu dari anak-anak Zebedeus yang menginginkan sesuatu yang terbaik bagi anak-anaknya. Bagi Yesus tidak salah seorang ibu menginginkan yang terbaik bagi anak-anaknya. Hanya saja sesuatu yang terbaik tidak akan dengan mudah terjadi begitu saja tanpa ada perjuangan dari yang berkeinginan itu.

Bacaan-bacaan Kitab Suci hari ini mengingatkan kita untuk terbuka pada kenyataan hidup yang terjadi. Dalam bacaan pertama Nabi Yeremia mengingatkan supaya umat Israel tidak terfokus pada diri sendiri. Nabi Yeremia menginginkan agar orang beriman mesti menjadi orang-orang yang berguna bagi sesama dengan melakukan semua kehendak Bapa.

Hari ini dalam bacaan Injil, Yesus mengajarkan para murid-Nya supaya menjadi orang-orang yang memilik pola pikir yang sehat agar dapat mengerti kehendak Bapa yang dinyatakan di dalam diri Yesus. Ia menghendaki agar setiap orang tidak menjadi orang-orang yang memiliki paradigma yang sama secara turun temurun, tanpa memiliki pengetahuan yang jelas tentang maksud dari paradigma yang dipegang itu. Yesus tidak ingin agar pikiran tentang kekuasaan dan kejayaan di dunia menutupi akal sehat orang beriman sehingga tidak menyadari  maksud dari pengorbanan Yesus.

Sebagai orang beriman, semestinya kita percaya bahwa pengorbanan Yesus telah membuat Kerajaan Allah menjadi dekat dengan hidup manusia.  Kerajaan Allah yang dulunya hanya sebatas konsep dalam pikiran manusia, kini menjadi nyata. Dengan membuka pikiran untuk melihat kenyataan hidup yang sedang dialami dan mengarahkan hati untuk membantu orang lain yang membutuhkan uluran tangan kasih maka setiap orang telah membuat pengorbanan Kristus menjadi tidak sia-sia, karena kasih yang diberikan oleh Bapa lewat Putra-Nya telah dinyatakan juga kepada orang lain.

(Fr. Adiputro Koraag)

“Sama seperti anak manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang” (Mat. 20:28).

Marilah Berdoa:

Tuhan, terangilah selalu akal budiku agar aku dapat menjadi cahaya bagi orang-orang di sekitarku. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini