“Mengikut Kristus” Renungan, Kamis 18 Februari 2021

0
1618

Hari Kamis ses Rabu Abu (U)

Ul. 30:15-20; Mzm. 1:1-2,3,4,6; Luk. 9:22-25.

Di zaman ini banyak orang hidup dalam budaya instan. Berbagai kemudahan mengisyaratkan bahwa orang ingin hal yang mudah untuk memperoleh kebahagiaan. Setiap manusia pasti menginginkan kebahagiaan dalam hidup. Orang ingin hidup sejahtera, mapan, makmur, dsb. Akan tetapi, menarik bahwa Yesus menghendaki agar sebagai murid Kristus orang perlu memikul salib dan menanggung penderitaan. Menderita tentu bukan merupakan hal yang diharapkan oleh setiap orang.

Dalam Injil hari ini, Yesus dengan jelas menunjukkan kewajiban seseorang dalam mengikuti Dia. Seorang pengikut Kristus diharapkan memiliki kualitas hidup sebagaimana dicerminkan oleh Yesus yakni ‘menyangkal diri, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Yesus’. Menyangkal diri berarti berkata “tidak” terhadap segala sesuatu yang berkaitan dengan kepentingan dan kemauan diri sendiri.  Memikul salib berarti siap menghadapi penganiayaan yang paling keji sekalipun, bahkan kematian.

Lewat bacaan Injil hari ini kita diajak untuk keluar dari zona nyaman masing-masing. Menjadi pengikut Kristus berarti siapsedia untuk mengikuti-Nya dengan harga apapun. Demikian hal tersebut dibuktikan oleh Yesus dan sengsara dan wafat-Nya. Berkat kesetiaan-Nya hingga mati di salib. Yesus telah dibangkitkan dan mendapat kemuliaan. Karena itu yang mengamankan  dirinya dengan menyangkal Tuhannya akan menerima kehancuran. Sebaliknya yang menyerahkan dirinya secara total hingga mati demi Yesus akan mendapat keselamatan.

Mengikuti Yesus berarti berjalan di belakang-Nya dengan menyatukan diri dalam hidup, sengsara dan kematian-Nya. Kualifikasi ini menandakan bahwa seorang pengikut Kristus akan memikul penderitaan bagi Kristus. Nampaknya hal ini tidaklah mudah. Namun, Yesus sendiri memberi teladan kepada kita lewat sengsara dan wafat-Nya di Kayu salib. Ia berkorban demi kasih-Nya kepada manusia. Pengorbanan atas dasar cinta kasih inilah yang perlu kita teladani dalam hidup. Teladan hidup Yesus sesungguhnya dapat diejahwantakan dalam hal-hal kecil dalam hidup kita masing-masing.

Dengan demikian kita telah mengusahakan diri untuk menjadi murid-murid Kristus, yakni dengan berkurban. Secara konkret, misalnya mengurbankan waktu pribadi untuk berdoa, mengurbankan kepentingan diri untuk orang lain dsb. Janganlah takut menjadi murid Kristus sebab Allah sendiri menjanjikan berkat bagi mereka yang setia kepada-Nya. Maka dari itu, menjelang peristiwa wafat dan kebangkitan Yesus, kiranya kita semakin mawas diri dan mulai bertobat. Bertobat dari kedosaan dan berani untuk berkorban.

(Fr. Wilio Kalesaran)

 

“Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal diri, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku” (Luk. 9:23).

 

Marilah berdoa:

Tuhan, mampukanlah aku agar dapat berkurban sehingga layak menjadi Murid-Mu. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini