Hari Biasa (H)
Kej. 4:1-15,25; Mzm. 50:1,8,16bc-17,20-21; Mrk. 8:11-13.
Manusia dalam kehidupan sehari-hari sangat erat dengan yang apa yang disebut simbol atau tanda. Manusia selalu membutuhkan tanda sebagai bukti dari suatu kebenaran. Tanda menjadi sarana pendukung dan peneguh sebuah keyakinan atau kepercayaan.
Bacaan-bacan Kitab Suci hari ini mengisahkan tentang tanda. Dalam bacaan pertama dikisahkan tentang Kain yang membunuh saudaranya Habel. Kemudian Allah murka atas dosa Kain dan mengutuknya. Tetapi karena Allah adalah kasih, Ia kemudian memberikan suatu tanda bagi Kain agar ia tidak dibunuh.
Semakin bertambah jumlah manusia di muka bunmi ini, semakin bertambah juga dosa dan kejahatan manusia. Allah kemudian memberikan tanda kasih-Nya yakni Yesus Kristus, Putra-Nya sendiri. Namun, sebagaimana yang dikisahkan dalam bacaan Injil, orang-orang Farisi kembali meminta tanda dari surga. Sikap ini tentu memilukan hati Yesus, karena telah banyak tindakan dan perbuatan-Nya yang Ia lakukan sebagai tanda keallahan-Nya.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita juga sering bersikap seperti orang-orang Farisi. Telah banyak tanda kasih Allah dalam kehidupan kita, tetapi kita masih tetap bertanya dalam hati kita, di mana kasih Allah itu? Kita tidak sungguh-sungguh mau membuka mata dan hati kita untuk melihat betapa besar karya Allah dalam hidup kita sehari-hari. Sesungguhnya, ada banyak hal dalam hidup kita sehari-hari yang pantas kita syukuri: kita masih bisa bangun setiap pagi dan menikmati hidup, kita memiliki kedua orang tua dan sanak saudara, pekerjaan kita, dan banyak hal sederhana lain yang adalah tanda kasih Allah bagi kita manusia, yang sungguh layak untuk kita syukuri. Satu tanda yang layak dan “wajib” kita syukuri adalah korban Yesus dengan tubuh dan darah-Nya.
Oleh karena itu, sebagai tanda Kasih Allah yang paling Agung bagi manusia, yaitu Yesus dalam korban tubuh dan darah-Nya, kita semua diajak untuk lebih mengenal kasih dan rencana Allah dalam kehidupan kita setiap hari. Mengenal kasih dan rencana Allah itu, kita harus memiliki hubungan yang intim dengan-Nya yang dapat kita capai dalam perayaan Ekaristi. Sebab Ekaristi adalah sumber dan puncak kehidupan umat beriman yang dengan Ekaristi itu, kita semua dimampukan untuk mengenal kasih Allah dan mensyukuri setiap kasih Allah itu dalam kehidupan kita sehari-hari.
(Fr. Suprianus Doliti)
“Firman Tuhan kepada Kain: “Mengapa hatimu panas dan mukamu muram?” (Kej. 4:6).
Marilah berdoa:
Ya Allah, bantulah kami untuk membuka mata hati kami, agar semakin mampu mengenal dan mensyukuri tanda kasih-Mu. Amin.











