“Keyakinan yang Menyelamatkan”: Renungan, Minggu 14 Februari 2021

0
2811

Hari Minggu Biasa VI (H).

Im. 13:1-2,44-46; Mzm. 32:1-2,5,11; 1Kor. 10:31 – 11:1; Mrk. 1:40-45.

Banyak orang Kristen masa kini yang sedang mengalami penderitaan, sakit penyakit dan masalah tidak lagi yakin akan kemurahan hati Tuhan. Mereka bahkan semakin menjauhkan diri dari Tuhan, sumber kebaikan dan kemurahan hati.  Karena kurang yakin dan percaya akan hal itu maka banyak orang mulai putus asa dan tidak mau lagi berusaha ataupun berjuang untuk menggapai harapan akan kemurahan hati Tuhan. Mereka tidak mau mencari Tuhan yang adalah sumber keselamatan dalam hidupnya.

Namun belajar dari bacaan Injil hari ini, hal yang menarik dan sungguh menjadi contoh hidup yang patut diteladani yakni sikap seorang yang sakit kusta. Ia datang mencari Yesus. Bahkan di hadapan Yesus dia berlutut memohon kepada Yesus katanya: kalau Engkau mau, Engkau dapat mentahirkan aku. Disini kita dapat melihat usaha dan kepercayaan dari si sakit kusta ini serta imannya yang besar. Kepercayaan dan keyakinannya kepada Tuhan Yesus membuat ia memperoleh dan mengalami langsung kasih Tuhan yang dinyatakan kepada-Nya. Maka karena belas kasih Tuhan akhirnya orang yang sakit kusta ini disembuhkan.

Dalam Injil dikatakan bahwa hati Yesus tergerak oleh belas kasihan. Yesus sangat peduli dan berbelas kasih kepada mereka yang sungguh-sungguh yakin mau datang dan menyerahkan seluruh hidup pada penyelenggaraan-Nya. Yesus menjamah orang itu dan berkata kepadanya, “Aku mau jadilah engkau tahir”. Selanjutnya Yesus melarang keras orang yang disembuhkannya itu untuk mengatakan hal itu kepada siapapun, tetapi hal itu tetap ia sebarkan kepada banyak orang. Mungkin banyak orang melihat hal ini dari sudut pandang lain, dan mulai bertanya-tanya, kenapa Yesus melarang peristiwa penyembuhan itu disebarkan?

Saudara-saudariku terkasih, meskipun hal ini sudah dilarang oleh Yesus, namun Yesus sendiri sudah tahu sejak awal bahwa yang akan terjadi justru sebalikya. Yesus menyadari bahwa bagi orang yang disembuhkan-Nya peristiwa itu adalah sebuah sukacita dan kebenaran yang berasal dari Allah sendiri. Peristiwa ini tak tertahankan tapi mesti disebarkan. Pengalaman sukacita yang diwartakan bertujuan agar orang lain yang menyaksikannya sungguh-sungguh dapat diyakinkan akan kebaikan, dan akan kabar keselamatan yang datang dari Allah lewat kesaksian iman yang benar.

(Fr. Chris Mokili)

Aku mau jadilah engkau tahir” (Mrk. 1:41).

Marilah berdoa:

Tuhan, semoga aku semakin yakin dan percaya akan belas kasih-Mu yang besar. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini