“Mengikuti Hukum Tuhan”: Renungan, Selasa 9 Februari 2021

0
1659

Hari biasa (H)

Kej. 1:20 – 2:4a; Mzm. 8:4-5,6-7,8-9; Mrk. 7:1-13

Adat merupakan sebuah gagasan kebudayaan yang didalamnya terdapat nilai-nilai budaya, norma, kebiasaan, hukum yang lazim dilakukan oleh suatu kelompok atau daerah tertentu. Apabila adat tidak dilaksanakan maka akan menimbulkan kehancuran dan konsekuensinya adalah sanksi bagi kelompok atau pelaku yang tidak melaksanakan atau menyimpang dari adat. Adat biasanya tidak tertulis namun memiliki makna atau konsekuensi yang besar bagi yang melanggarnya tergantung hukum yang berlaku.

Bacaan pertama hari ini sesungguhnya hendak mengisahkan tentang Allah yang menciptakan langit dan bumi dengan baik adanya. Segala kebaikan itu nampak ketika Allah menciptakan semuanya saling berdampingan dan melengkapi sehingga bumi berjalan sesuai dengan rencana Allah.

Berbeda dengan hal itu, dalam bacaan Injil dikisahkan tentang kecaman keras orang Yahudi terhadap murid-murid karena mereka makan tanpa membasuh tangan. Hal ini dikarenakan orang Yahudi terkenal akan adat istiadatnya yang kuat sehingga mereka tidak segan-segan mengecam siapa saja yang hidupnya tidak sesuai dengan adat orang Yahudi.

Namun, Yesus mengecam serombongan orang Farisi dan beberapa ahli Taurat katanya: “Benarlah nubuat Yesaya tentang kamu, hai orang-orang munafik! Sebab ada tertulis: Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jau dari pada-Ku. Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia. Perintah Allah kamu abaikan untuk berpegang pada adat istiadat manusia.”

Kecaman yang Yesus berikan bertujuan untuk menyadarkan orang-orang Yahudi dan Ahli Taurat bahwa ada hukum yang jauh lebih besar dari hukum adat istiadat yang diciptakan manusia. Hukum Tuhan adalah hukum yang menyelamatkan karena di dalam hukum Tuhan tidak ada unsur-unsur pribadi yang hendak dicapai. Pelencengan hukum Tuhan yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi dan ahli Taurat telah menjauhkan mereka dari kebenaran hukum Tuhan. Adat istiadat mereka dilandaskan atas kepetingan dan keuntungan semata. Yesus mau menegakkan hukum Tuhan dengan meluruskan kekeliruan yang terjadi.

Maka, sebagai orang yang beriman tugas kita adalah menegakkan hukum Tuhan agar perintah dan ajaran-Nya dapat kita sampaikan kepada umat dan kepada mereka yang menerima firman Tuhan. Kita harus meluruskan firman Tuhan yang terkadang harus bertentangan dengan berbagai ajaran duniawi yang ada.

(Fr. Wensislaus Nowinrian)

“Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia” (Mrk. 7:7).

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, mampukanlah aku untuk mengerti ajaran dan karya keselamatan-Mu. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini