“Menjadi Lahan yang Baik”: Renungan, Rabu 27 Januari 2021

0
1709

Hari Biasa (H)

Ibr. 10:11-18; Mzm. 110:1,2-3,4; Mrk. 4:1-20

Dalam bertani, ada hal-hal yang harus disiapkan terlebih dahulu sebelum proses menanam dilakukan. Membersihkan lahan dari tumbuhan-tumbuhan liar, menyiapkan lahan, memberi pupuk, dan baru setelah itu benih dapat ditanam. Benih itu dapat tumbuh dan berbuah dengan baik apabila lahan tempatnya ditanam subur dan baik kondisinya. Lahan itu dapat memiliki kualitas yang baik apabila diolah dengan baik juga.

Saudara terkasih, hari ini Yesus mengajari orang banyak dengan perumpamaan tentang penabur. Tetapi, Ia tidak menjelaskan kepada orang banyak tentang arti perumpamaan itu. Ia hanya menjelaskan persoalan tersebut kepada kalangan terbatas, yakni para murid-Nya. Ia menyatakan bahwa di antara manusia yang mendengar pewartaan-Nya, ada yang hanya mendengar namun kemudian iblis mengambilnya sehingga tak berbuah. Ada yang menerima dengan gembira tapi tak bertahan lama karena tak tahan dengan penindasan dan penganiayaan karena firman itu. Ada yang mendengar firman itu tapi tak dapat tahan dengan kekhawatiran dan kenikmatan dunia ini sehingga tak berbuah. Akhirnya, ada yang mendengar dan menyambut firman itu, dan kemudian berbuah banyak.

Saudara terkasih, Yesus menghendaki kita untuk bisa menjadi seperti golongan terakhir tadi, yang dapat menghasilkan buah yang berlipat ganda. Ini terdengar mudah, tapi sebenarnya sulit untuk dilaksanakan. Lihat saja orang-orang yang telah mendengar pewartaan Yesus. Meski telah mendengarnya, mereka masih saja tidak dapat menghasilkan buah yang baik dan berlipat ganda. Lantas, kita bertanya: bagaimana caranya agar kita dapat masuk dalam kelompok orang yang berbuah banyak itu? Mendengarkan, menyambut, melaksanakan, dan kemudian menghasilkan buah merupakan ciri khas dari kelompok orang yang berbuah banyak itu, dan itulah yang kita lakukan. Seandainya kita dapat melakukan hal-hal tersebut maka Allah pasti akan merahmati kita dan memberikan keselamatan kepada kita.

Yesus telah berkurban untuk menebus dosa-dosa kita, dan kurban persembahan-Nya itu sempurna sehingga memang Ia berhasil menguduskan semua orang yang percaya kepada-Nya, semua orang yang mendengarkan dan melaksanakan firman-Nya.

(Fr. Mathias Fasse)       

“Siapa yang mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!” (Mrk. 4:9)

 Marilah berdoa:

Ya Allah, aku sadar bahwa terkadang aku kurang peka akan Firman-Mu yang menyelamatkan itu. Karenanya, aku mohon: bantulah diriku untuk dapat tanggap terhadap engkau dan segala Firman-Mu, serta menghidupinya setiap hari sehingga aku beroleh keselamatan yang dari pada-Mu itu. Amin.

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini