“Percaya dan Bersyukur”: Renungan, Sabtu 23 Januari 2021

0
1445

Hari biasa (H)

Ibr. 9:2-3,11-14; Mzm. 47:2-3,6-7,8-9; Mrk. 3:20-21. 

Kata “percaya” menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti pengakuan atau yakin bahwa sesuatu memang benar atau nyata. Dalam hidup setiap hari, sikap percaya sangat ditekankan agar hidup terasa lebih mudah untuk dilalui, sehingga kita pun dapat menjalani hidup tanpa rasa takut dan gelisah. Namun, seringkali juga kepercayaan kita itu diuji oleh Tuhan dan dalam bentuk yang beragam demi membuktikan usaha dari diri kita sendiri.

Bacaan Injil hari ini mengisahkan tentang Yesus yang masuk ke sebuah rumah. Kemudian banyak orang berkumpul, sehingga mereka pun tidak dapat makan. Hal ini kemudian membuat keluarga Yesus menganggap Yesus sudah tidak waras lagi. Anggapan itu muncul akibat perbuatan Yesus yang tidak masuk akal. Kita pun kadangkala seperti keluarga Yesus yang tidak percaya akan perbuatan Tuhan. Kita lebih memilih percaya akan perbuatan kita sendiri tanpa menyadari bahwa ada campur tangan Tuhan di dalamnya.

Contoh sederhana misalnya pada saat kita berjalan, kemudian kaki kita tersandung pada batu tetapi kita tidak jatuh. Peristiwa ini mungkin saja kita anggap semata-mata perbuatan kita, karena kekuatan kita sehingga kita tidak jatuh tanpa menyadari itu juga perbuatan Tuhan. Kita tidak percaya bahwa hal sederhana itu juga adalah pekerjaan Tuhan, karena kita menganggap perbuatan yang sederhana ini tidak mungkin dilakukan oleh Tuhan. Dengan ini kita mengabaikan pekerjaan Tuhan yang terjadi dalam hidup kita walaupun tindakan itu hanya sederhana saja. Oleh karena itu, kita tidak lagi berdoa kepada-Nya sebagai ungkapan syukur atas apa yang terjadi dalam hidup kita, walaupun sesederhana mungkin.

Melalui bacaan Injil hari ini, kita diajak untuk percaya akan perbuatan Tuhan dan mengakui bahwa semua perbuatan Tuhan adalah benar dan yang tidak mungkin bagi kita, sangatlah mungkin bagi Tuhan. Tidak ada satu pun perbuatan kita di dunia ini tanpa campur tangan Tuhan kecuali dalam hal dosa. Tuhan tidak pernah membiarkan kita sendiri, karena mata Tuhan selalu tertuju pada kita. Sadar akan hal itu, kiranya kita merubah diri dan pola pikir kita yang tidak benar terhadap Tuhan. Kita perlu untuk membaharui pola pikir kita terhadap tindakan Tuhan, percaya akan setiap pekerjaan Tuhan atas diri kita dan karena itu kita akan selalu sadar untuk tidak henti-hentinya bersyukur kepada Tuhan karena penyelenggaraan-Nya terhadap kehidupan kita setiap hari.

(Fr. Domy Samponu)

“Yesus masuk ke sebuah rumah. Maka datanglah orang banyak berkerumun pula, sehingga makan pun mereka tidak dapat” (Mrk. 3:20).

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, sadarkanlah kami untuk percaya akan setiap pekerjaan-Mu dalam hidup kami. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini