“Hari Tuhan”: Renungan, Selasa 19 Januari 2021

0
1366

Hari biasa (H). Hari kedua Pekan Doa Sedunia.

Ibr. 6:10-20; Mzm. 111: 1-2, 4-5,9,10c; Mrk. 2: 23-28.

Hari Sabat merupakan hari yang sakral bagi agama Yahudi. Berdasarkan Sepuluh Hukum yang diterima oleh Musa, hari ini merupakan hari di mana orang Israel tidak boleh melakukan sesuatu pekerjaan berat, salah satunya memetik gandum. Namun, dalam kisah Injil hari ini,  para murid telah melakukan apa yang dilarang itu, sehingga mereka mendapat teguran dari orang-orang Farisi. Orang-orang Farisi sangat marah kepada Yesus dan para murid-Nya, karena mereka telah berani melanggar tradisi dan hukum Taurat tentang hari Sabat, yang seharusnya dihormati dan dijunjung tinggi.

Manusia adalah ciptaan yang paling sempurna dan paling mulia dari semua ciptaan. Karena itu, segala sesuatunya diarahkan demi perkembangan kehidupan manusia. Dalam kehidupan kita sehari-hari, seringkali dengan sengaja kita mencari-cari kelemahan orang lain. Apabila itu kita dapatkan, kita lalu berupaya secara sengaja untuk menjatuhkannya lewat berbagai cara. Di balik teguran orang Farisi ini, tentunya ada sejumlah motivasi lain yang melatarbelakanginya, motivasi itu ialah mencari kelemahan Yesus. Yesus pun bertanya kepada orang-orang Farisi, “Apakah mereka tidak pernah membaca Kitab Suci dan menilai bagaimana kisah tentang Raja Daud dan bawahannya yang karena kebutuhan manusiawi yaitu rasa lapar,  membuat mereka masuk ke dalam rumah Allah dan makan roti persembahan yang sebenarnya hanya dapat dimakan oleh imam? “.

Dalam hal ini, Yesus ingin mengingatkan orang Farisi dan kita semua bahwa nilai tertinggi dari suatu aturan adalah kehidupan manusia, sebagai ciptaan yang paling mulia. Kalau aturan yang ada pada akhirnya menghancurkan kehidupan manusia, maka aturan apa pun itu harus diperbaiki demi kebaikan manusia. Hal ini mau memperlihatkan satu kebenaran bahwa perayaan hari Sabat dilakukan untuk kepentingan manusia agar mereka tidak diperbudak oleh pekerjaannya. Pada dasarnya semua hari adalah ciptaan Tuhan, sama baik dan kudusnya jika kita menggunakan setiap hari untuk memuliakan Allah dan mewujudkan kebaikan-Nya bagi sesama.

Lalu, apakah hari Sabat menjadi beban atau sukacita bagi kita ? Jika hari Minggu adalah hari yang “sibuk” bagi kita, maka pikirkanlah satu hari perhentian lainnya sebagai hari di mana kita benar-benar dapat beristirahat, berdoa, dan bersyukur serta menikmati rencana Tuhan secara khusus dalam diri kita.

(Fr. Tonny Kuntag)

Anak Manusia adalah juga Tuhan atas hari Sabat” (Mrk. 2 : 28)

Marilah berdoa :

Ya Tuhan, berkatilah kami karena hukum cinta kasih-Mu adalah sukacita dan keselamatan kami. Amin.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini