“Apakah pembaptisanku tidak benar”: Renungan, Minggu 10 Januari 2021

0
1899

Pesta Pembaptisan Tuhan (P)

Yes. 55: 1-11; 1 Yoh. 5: 1-9; Mrk. 1: 7-11.

 Pembatisan merupakan peristiwa gembira dan saat pesta dalam keluarga kristiani. Peristiwanya ditandai dengan foto kenangan, dilanjutkan dengan acara bersama para undangan dalam bentuk makan-minum, kata-kata sambutan dan penampilan para singers dan pemain keyboard pilihan untuk menambah meriahnya acara keluarga. Namun sesudah pesta sering ada yang mengatakan bahwa anda menerima pembaptisan dengan cara tidak benar sehingga perlu dibaptis ulang. Kemeriahan pesta pembaptisan tak dapat menolong dalam menghadapi teror kata-kata itu. Muncul pertanyaan, manakah pembaptisan yang benar?

Pesta Pembaptisan Tuhan, umat purba menyebutnya “Pesta Cahaya” (Heortê tôn Phôtôn), adalah suatu peristiwa yang mencerahi dan memberi pengertian mengenai kebenaran diri Yesus. Perayaannya menjadi kesempatan kembali ke sumber kebenaran pembaptisan, menemukan kriteria kebenaran bagi pembaptisan yang diterima oleh para mengikuti Yesus.  Dalam pesta ini umat dapat menemukan makna sebenarnya dari pembaptisan Yesus dan letaknya kebenaran Sakramen Pembaptisan mereka.

Yesus meminta dibaptis oleh Yohanes. Yohanes telah menyerukan pertobatan dan pembaptisan sebagai jalan untuk luput dari penghakiman dan murka Allah. Keselamatan hanya didapatkan melalui penyesalan dan pengakuan dosa, yang dinyatakan dengan memberi diri dibaptis (Mrk. 1: 2-5). Permintaan Yesus untuk dibaptis oleh Yohanes, menimbulkan pertanyaan bagi  mereka yang hadir. Jika Yesus adalah Dia yang akan membaptis dengan Roh Kudus dan bukan pendosa, mengapa ia harus dibaptis?

Yohanes tahu bahwa Yesus adalah Dia yang lebih berkuasa dari padanya, yang akan membaptis mereka dalam Roh Kudus, maka ia menolak permintaan Yesus: ‘Akulah yang perlu dibaptis oleh-Mu, dan Engkau yang datang kepadaku?’ Yesus menjawab: “Biarlah hal itu terjadi, karena demikianlah kita memenuhi kehendak Allah.” Yesus menerima baptisan Yohanes sebagai tanda ketaatan-Nya pada kehendak Bapa yang mengutus-Nya. Suara Bapa membenarkan sikap dan tindakan Yesus. “Engkaulah Anak yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan.”

Yesus menyatakan inti pembaptisan yang benar, sebagai tanda tobat sejati, ialah ketaatan dan kesetiaan melaksanakan kehendak Allah. Dengan ketaatan pada kehendak Allah orang lahir kembali sebagai anak Allah, maka pembaptisan yang benar melahirkan ketaatan dan kesetiaan pada perintah-perintah Allah. Dari buahnya kita dapat membedakan suatu pembaptisan benar atau tidak benar. Mereka yang hidup taat pada kehendak Bapa menunjukkan kebenaran baptisannya, sedangkan yang mencari nasihat dan mengikuti godaan iblis  menyatakan kepalsuan dari baptisannya. Tidak cukup dibaptis sebagai formalitas menurut kebiasaan orang tua. Tetapi harus hidup sebagai anak Allah taat dan setia melaksanakan kehendak Bapa di surga. Manusia tidak menjadi anak Allah di atas kertas tetapi dalam hidup mengikuti jejak Kristus.

(P. Julius Saletia)

“Aku bersaksi bahwa Dia inilah Anak Allah” (Yoh. 1: 34).

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, anugerahilah kami ketaatan dan kesetiaan mendengarkan dan melakukan kehendak-Mu, sesuai teladan Kristus. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini