“Hamba yang rendah hati”: Renungan, Sabtu 9 Januari 2021

0
2229

Hari Biasa Sesudah Epifani (P)

1 Yoh. 5:14-21; Mzm.149:1-2, 3-4,5, 6a,9b; Yoh. 3:22-30.

 Setiap manusia ingin menjadi yang utama atau terdepan. Semuanya ingin jadi nomor satu, yang terbaik, dan terbesar. Hal ini nampak dalam dunia politik, bisnis, olahraga dan sebagainya. Bahkan tanpa disadari Gereja juga menuju hal yang serupa. Sikap untuk menjadi yang terdepan itu didasari oleh keinginan manusia yang egois. Akibatnya, terjadi ketidakpedulian dan saling menjatuhkan satu sama lain.

Dalam Injil hari ini, Yohanes Pembaptis mengingatkan kita dengan sikap kerendahan hatinya yang luar biasa. Ketika mendengar kabar bahwa Yesus mulai popular dan banyak orang mengikuti-Nya, Yohanes tidak merasa iri atau terancam. Sebaliknya, ia sadar bahwa dirinya hanyalah seorang utusan Allah yang menyiapkan jalan bagi Yesus. Kesadaran ini terlihat dalam ungkapan Yohanes, “Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil”. Sebuah ungkapan yang sulit untuk diucapkan tanpa ketulusan hati. Yohanes menunjukkan sikap kerendahan hati dari seorang hamba yang melayani Tuhan. Yohanes tahu siapa dirinya dan siapa Yesus. Yesus adalah pengantin pria, dan umat sebagai pengantin wanita kini mereka bertemu sebagai pribadi yang saling mencintai. Sebagai seorang hamba yang mempersiapkan jalan bagi Yesus sang mempelai lak-i-laki, Yohanes merasakan bahwa suka citanya telah penuh karena Yesus semakin dikenal oleh banyak orang.

Seperti Yohanes, kita juga adalah hamba yang melayani Allah. Oleh karena itu hendaknya kita memiliki kerendahan hati. Bercermin dari kesaksian Yohanes, kita dituntut memahami artinya menjadi hamba yang melayani. Sebagai hamba, kesaksian yang kita berikan bukan tentang hebatnya diri kita melainkan kesaksian tentang Yesus yang adalah juru selamat. Menjadi hamba sangat dibutuhkan kerendahan hati sehingga kesaksian tentang Yesus menjadi berkat bagi sesama. Kerendahan hati juga menjadi keharusan dalam membangun keharmonisan hidup kita dengan sesama. Karena beriman yang sejati ialah melayani Allah dan sesama dengan semangat kerendahan hati. Dengan demikian, adalah suka cita menyaksikan sesama menemukan Allah sebagai sumber keselamatan yang sejati.

Marilah sebagai hamba Allah, kita melayani-Nya dengan rendah hati tanpa menuntut sebuah hadiah atau penghargaan, karena sesungguhnya keselamatan sudah ada bagi hamba yang dengan rendah hati melayani Allah. Dan Tuhan pasti menyatakan anugerah dan berkat-Nya dalam kita yang mau melayani Dia dan sesama. Dalam kerendahan hati kita menjadi pribadi yang jujur, tulus, rela dan mampu melayani sesama serta membawa orang menemukan keselamatan dari Allah. Amin

(Natalio Kawarnidi)

Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil” (Yoh. 3:30).

Marilah berdoa:

Ya Allah, berilah hamba-Mu kerendahan hati dalam melayani Dikau dan sesama. Amin.

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini