“Menanggapi undangan Yesus”: Renungan, Kamis 7 Januari 2021

0
1464

Hari biasa ses PenampTuh (P)

1Yoh. 4:19 – 5:4; Mzm. 72:2,14,15bc,17; Luk. 4:14-22a.

Pada awal bacaan dikatakan bahwa Yesus kembali ke Galilea dalam kuasa Roh. Pernyataan tentang diri Yesus yang penuh kuasa Roh adalah penegasan atas ajaran-Nya yang menakjubkan, tindakan dan perbuatan yang menghidupkan dan penuh kuasa. Identitas diri Yesus dinyatakan bukan saja dari ajaran-Nya melainkan dipertegas dengan cara pembawaan diri yang penuh wibawa. Yesus memiliki wibawa dan kekuasaan atas segala hal duniawi. Injil Lukas memberi tempat yang istimewa bagi Roh Kudus sebagai kuasa Allah yang berkarya di dunia ini. Lukas menampilkan Roh Allah yang membimbing pekerjaan manusia, termasuk karya Yesus.

Di Galilea Yesus mengajar orang banyak. Yesus dipuji oleh mereka yang hadir di Sinagoga, hal ini menggambarkan keberhasilan Yesus. Selain itu, salah satu tema yang menarik perhatian dalam teks ialah Yesus yang mengajar. Lewat tema ini, secara tidak langsung Lukas hendak menegaskan wibawa Yesus dalam pengajaran-Nya kepada umat-Nya tentang Allah dan rencana-Nya. Dalam pengajaran-Nya, Yesus yang dipenuhi kuasa Roh ingin menyampaikan kabar baik kepada orang miskin, kaum papa, menderita, hina, patah semangat, dan mereka yang buta akibat hal duniawi dan iblis. Semua itu Yesus lakukan karena didorong oleh kasih-Nya yang tak terbatas kepada manusia.

Dalam bacaan pertama dikatakan bahwa kasih Allah kepada manusia adalah nyata dan tak terbatas. Kita adalah anak-anak Allah. Kita adalah anak-anak Kasih, sebab Allah adalah Kasih itu sendiri. Oleh karena itu, identitas kita sebagai anak-anak Allah akan menjadi nyata jika kita menuruti perintah-perintah-Nya. Perintah-perintah-Nya itu tidak berat, sebab semua yang lahir dari Allah, mengalahkan dunia. Dan kemenangan yang mengalahkan dunia itu ialah iman kita.

Kehadiran Yesus di dunia sebagai Mesias merupakan penggenapan janji Allah kepada manusia khususnya bagi orang-orang miskin, pembebasan bagi orang tertawan, penglihatan bagi orang buta, membebaskan orang yang tertindas serta memberitahukan tahun rahmat Tuhan. Dalam hidup kesehariannya, Yesus memiliki kebiasaan yang patut untuk kita teladani yaitu setiap hari Sabat, Ia ke Sinagoga. Pertanyaannya, bagaimana dengan kita? Apakah masih setia memuji Tuhan untuk beribadah di hari yang dikhususkan-Nya? Masih nampakkah sikap kita menghormati serta menghargai Firman Tuhan dalam ibadah? Ataukah ketika Firman diberitakan, kita hanya asik ber-sosmed, facebook, WA atau bahkan tidur? Marilah kita menjadi kumpulan orang yang berwibawa.

(Fr. Andre Talia)

“Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita” (1Yoh. 4:19).

 

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, bukalah hati kami untuk setia menerima sabda-Mu. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini