“Ketakutan yang bernilai”: Renungan Rabu 6 Januari 2021

0
1326

Hari biasa ses PenampTuh (P)

1Yoh. 4:11-18; Mzm. 72:2,10-11,2-13; Mrk. 6:45-52.

Takut adalah sebuah kata yang bukan hanya bernuansa negatif tetapi juga positif jika ditempatkan pada maksud yang tepat. Sumber ketakutan adalah ancaman eksternal. Seperti takut hantu, takut dihukum dan lain sebagainya. Rasa takut memberikan pengajaran tertentu bagi siapapun. Dari rasa takut, kita dapat menjadi orang yang awas akan kesekitaran dan situasi yang akan kita hadapi nanti.

Bacaan hari ini menampilkan ketakutan para murid. Rasa takut yang dialami para murid disebabkan karena mereka kurang percaya akan naungan Tuhan atas diri mereka dan ketidak-percayaan akan kasih Allah. Hal itu nampak saat mereka mengira Yesus adalah hantu.

Terkadang dalam hidup kita, kita kurang jeli dalam melihat sesuatu, yang mungkin  adalah tindakan Allah atas diri kita tetapi kita anggap sebagai ancaman bagi diri kita. Untuk itu bacaan pertama memberikan sebuah solusi yang bagus untuk melawan rasa takut, yaitu “kasih”. Bacaan pertama melukiskan bahwa kasih dapat melenyapkan ketakutan dan dalam kasih tidak ada ketakutan. Jika orang takut maka situasi yang akan mereka alami adalah sesuatu yang akan menghukum mereka. Maka dari itu kasih berperan melenyapkan rasa takut. Allah itu kasih maka kita mesti takut akan Allah yang adalah sumber kasih. Karena jika kita tidak takut akan Allah maka kita tidak mendapatkan kasih dalam diri kita. Jika tidak, semua itu akan berbuah kejahatan. Hal untuk takut akan Allah nampak pada Mazmur hari ini yang menegaskan  seharusnya kita hanya takut akan Allah saja.

Saudara-saudariku yang terkasih, marilah kita menghadirkan Allah dalam diri kita yang adalah wujud dari kasih. Karena jika Allah adalah kasih maka kasih dapat menyelamatkan kita dengan tidak menghadirkan kejahatan. Karena kejahatan ada ketika tidak ada kasih dan kejahatan yang akan membuat diri kita mendapat hukuman. Allah hadir dalam diri kita dalam bentuk kasih. Marilah menjadi orang yang menyebarkan kasih kepada sesama. Menyebarkan kasih berarti mewartakan Allah pada sesama.

(Fr. Oktovianus Siunta)

“…Tenangalah! Aku ini, jangan takut!” (Mrk. 6:50).

Marilah berdoa:

Ya Allah, ajarkan kami untuk taat, percaya, dan mengasihi. Amin.

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini