“Belajar Dari Maria”: Renungan, Sabtu 9 Juni 2018

0
5556

Pw Hati Tersuci SP Maria (P)

2Tim. 4:1-8; Mzm. 71:8-9,14-15a,16-17,22; Mrk. 12:38-44; atau

Yes. 61:9-11; MT 1Sam. 2:1,4-5,6-7.8abcd; R 1a.; Luk. 2:41-51

Hari ini Gereja Katolik memperingati Hati Tersuci Santa Perawan Maria. Devosi ini berkembang dalam Gereja sejalan dengan devosi kepada Hati Kudus Yesus. Pada tahun 1640 sudah terbentuk persekutuan hati Maria di Napoli. Yohanes Eudes merupakan tokoh yang menggerakan kedua devosi ini.

Dalam penampakan Bunda Maria pada tanggal 13 Juni 1917, kepada Lucia dos Santos, Ia berkata: “Yesus ingin menggunakan anda supaya aku dapat dikenal dan dikasihi. Dia ingin membangun di dunia ini devosi kepada hatiku yang tak bernoda”.

Devosi ini resmi diakui dalam Gereja oleh Paus Pius XII (1944). Sejak tahun 2000 Gereja memperingatinya setelah Hari Raya Hati Yesus yang Mahakudus.

Perayaan Hati Tersuci Maria hari ini hendaknya membawa dampak tersendiri bagi kita semua. Maria telah menunjukkan ketaatan imannya kepada Tuhan. Ketaatan iman itu ada di dalam hati sebagai seorang ibu yang “cemas mencari” yang terbaik dalam diri Yesus Putra-Nya.

Bunda Maria menginspirasikan kita semua untuk cemas mencari anak-anak dan orang-orang muda untuk menyelamatkan jiwa mereka yang cenderung tercemar oleh dunia.

Bunda Maria menginspirasikan kita untuk memiliki hati yang suci, hati yang murni, hati yang mampu mengasihi. Kisah ini menarik perhatian kita.

Keibuan Maria menunjukkan sikap kesabarannya kepada Yesus. Sebagai umat beriman kita diajak untuk meneladani sikap Bunda Maria yang dengan sabar menunjukkan kerendahan hatinya.

Sikap kerendahan hati mau menunjukkan totalitas hidup Bunda Maria yang mengabdikan diri sepenuhnya kepada kehendak Allah, seperti yang telah dikatakannya “aku ini hamba Tuhan terjadilah padaku menurut perkataan-Mu”.

Teladan apa yang mau ditunjukkan Bunda Maria?  Yakni ketaatan, kelembutan, kesiap-sediaan, semangat pelayanan, kekuatan, kerendahan hati, kesederhanaan, jiwa penuh syukur dan lain sebagainya. Teladan hidup inilah yang akhirnya membuat Bunda Maria semakin kuat.

Kesucian hatinya menjadi buah iman bagi teladan hidup kita untuk selalu bersikap rendah hati dalam setiap pelayanan hidup kita terhadap sesama. Kita diajak untuk meneladani sikap kesabaran dan ketulusan hati dari Bunda Maria.

Meskipun mengalami banyak persoalan dan perkara hidup, Ia tidak mengeluh dan menghindar. Maria menerima dan menyimpan semua perkara itu dalam hatinya. Disinilah letak kesucian hati Maria.

(Fr. Hubertus Hans Werit)

“Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan, jadilah padaku menurut perkataan-Mu itu” (Luk 1:38)

Marilah berdoa:

Ya Allah, semoga aku dapat meneladani kemurnian hati Bunda Maria. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini