“Menanggapi Hidup”: Renungan, Minggu 27 Desember 2020

0
1989

Pesta Keluarga Kudus, Yesus, Maria, Yusuf (P), Oktaf Natal.

Kej. 15:1-6; 21:1-3; Mzm. 105:1b-2,3-4,5-6,8-9; Ibr.  11:8,11-12,17-19; Luk. 2:22-40 (panjang) atau Luk. 2:22,39-40 (pendek)

Dalam suasana Natal, kita diajak untuk berefleksi tentang tanggapan kita akan kelahiran Tuhan Yesus. Dalam Injil dikisahkan tentang Yoseph dan Maria menyambut Tuhan Yesus dengan penuh syukur dan kegembiraan. Ungkapan syukur itu ditandai dengan mempersembahkan Tuhan Yesus di Bait Allah. Rasa Syukur ini pula dirasakan oleh Simeon dan Hana. Kehadiran Yesus membuat mereka mengungkapkan keyakinan iman mereka atas penyelamatan oleh Allah.

Keyakinan iman akan karya penyelamatan Allah sesungguhnya telah nampak sejak zaman Abraham. Abraham dan Sara memperoleh keturunan di masa tua mereka, berkat perjanjiannya dengan Allah sendiri, perjanjian antara Allah dan Manusia. Keyakinan iman Abraham, membuatnya beroleh keturunan sebanyak bintang di langit (Kej. 15:5) dan dari keturunannya akan lahir Penyelamat umat manusia (Mat. 1:17).

Walaupun banyak cobaan, Abraham tetap setia kepada Allah. Ia rela mempersembahkan anaknya yang tunggal, walaupun kepadanya telah dikatakan “Keturunan yang berasal dari Ishaklah yang akan disebut keturunanmu” (Ibr. 11:17-18). Hal terbesar yang dimiliki Abraham diserahkan kepada Allah. Abraham, Sara dan Ishak menjadi keluarga yang setia pada Allah dan rela menyerahkan segalanya bagi Allah.

Keluarga yang suci ini telah menjadi perintis terbentuknya keluarga kudus di Nazaret, di mana Tuhan Yesus Kristus, wujud dari pemenuhan janji penyelamatan Allah, dilahirkan. Keluarga kudus di Nazaret dan keluarga Abraham telah memberikan contoh dalam menanggapi karya penyelamatan Allah. Walaupun mengalami berbagai cobaan, mereka tetap setia kepada Allah dan selalu bersyukur pada-Nya.

Kita pun tentu mengalami berbagai pergumulan hidup dan bertemu dengan berbagai cobaan. Dengan Kristus yang telah lahir, bagaimana kita menanggapi segala pergumulan hidup yang dialami? Apakah kita setia dan sering bersyukur kepada Allah? Ataukah kita lebih banyak mengeluh dan menjauhkan diri dari Allah? Tentunya rahmat Tuhan jauh lebih besar daripada pergumulan hidup kita.

Marilah kita selalu bersyukur atas hidup ini dan berusaha memancarkan sukacita iman dalam kehidupan konkrit. Suami mengasihi isterinya, isteri menghormati suaminya, anak-anak taat kepada orang tua, dan semuanya berusaha membangun relasi yang baik dengan orang lain. Semoga kita selalu bersyukur kepada Allah dan menjadi keluarga kristiani sejati.

(Fr. Theo Palit)

“Bermegalah di dalam nama-Nya yang kudus, biarlah bersukahati orang-orang yang mencari Tuhan” (Mzm. 105: 3).

Marilah berdoa:

Semoga kami, ya Tuhan,  senantiasa bersukacita dalam keyakinan iman yang teguh. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini