“Beriman seperti Yusuf”: Renungan, Jumat 18 Desember 2020

0
1346

Hari Biasa Khusus Adven (U)

Yer. 23:5-8; Mzm. 72:2, 12-13, 18-19; Mat. 1:18-24

Saudara-saudariku yang terkasih, jika kita merefleksikan bacaan Injil pada hari ini, maka kita akan menemukan seorang figur yang berperan penting dalam proses kelahiran Kristus. Tokoh itu adalah Yusuf. Adalah bagus kalau kita berkaca pada tokoh Yusuf ini, yang juga mewakili keseluruhan sisi kemanusiaan kita berhadapan dengan rencana dan kehendak ilahi.  Pertama, ketika dia harus mengalami kenyataan Maria tunangannya telah mengandung dari Roh Kudus. Keadaan ini tentu sulit dipahami dan diterimanya. Dalam situasi itu, Yusuf hendak memutuskan untuk menceraikan Maria dengan diam-diam. Penginjil menulis bahwa ketulusan hati terhadap Maria membuatnya mengambil jalan ini, mau menceraikan Maria dengan diam-diam.

Situasi ini mewakili jalan pikiran setiap manusia yang tak bisa memahami kehendak ilahi. Bila kita diperhadapkan dengan sesuatu yang melampaui kesanggupan pemahaman akal budi kita, maka biasanya kita segera menolak atau membantah dengan pelbagai alasan dan argumen. Menarik bahwa sesudah Yusuf tiba pada pertimbangan ini, malaikat Tuhan nampak padanya dalam mimpi. Inti penampakan adalah agar Yusuf tidak takut mengambil Maria sebagai isterinya. Dan Yusuf pun berbuat demikian seperti yang diperintahkan oleh malaikat.

Menjadi pertanyaan adalah apa yang memampukan Yusuf untuk tiba pada keputusan ini? Jawabannya adalah iman. Iman yang berarti tidak semata-mata terpaku pada kemampuan berpikir dan intelek saja, tetapi juga pada kemauan mendengar dan bergerak melampaui kesanggupan berpikir. Iman memang berangkat dari mendengarkan Tuhan dan memutuskan untuk membiarkan apa yang Tuhan kehendaki itu terjadi.

Saat ini kita sedang mempersiapkan diri menyambut kedatangan Kristus pada hari natal. Ada banyak momen dalam hidup kita yang sulit kita pahami dengan kesanggupan akal kita. Sering kita menjadi putus asa dan kemudian mengambil jalan seperti yang pernah Yusuf lakukan. Tapi mestinya kita tidak lupa untuk juga mendengarkan Tuhan sebelum kita melakukan apa yang kita putuskan. Dia menghendaki agar kita pun bisa mendengarkan Dia dan terutama melakukan apa yang dikehendaki-Nya bagi kita.

(Fr. Eky Lampeuro)

“Sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan Malaikat Tuhan itu kepadanya” (Mat. 1:24).

Marilah berdoa :

Tuhan, mampukanlah kami untuk selalu mampu mendengarkan dan melaksanakan apa yang menjadi kehendak-Mu di dalam diri kami. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini