“Berkarya dengan Hati”: Renungan, Selasa 8 Desember 2020

0
1921

HARI RAYA SP MARIA DIKANDUNG TANPA NODA

Kej. 3:9-15;20, Mzm. 98:1,2-3ab-.3bc-4; Ef. 1:3-6,11-12; Luk. 1:26-38

Perayaan Maria Immaculata Conceptio merupakan perayaan dogmatis. Perayaan ini hendak mempertegas bahwa Bunda Maria dikandung tanpa noda dosa memiliki hubungan dengan peran istimewanya sebagai ibu Tuhan Yesus. Sekaligus sensus fidelium atau cita rasa iman dari Bunda Maria yang mendorong hidup dan karya kita sampai pada keselamatan baik di dunia maupun di akhirat. Inilah martabat Maria yang kita imani karena teladan yang membawa kita pada keselamatan.

Bacaan hari ini mempertegas cinta Allah yang luar biasa dengan menghadirkan Bunda Maria, sebagai teladan hidup kita manusia. Artinya, kehadiran Maria adalah buah rahmat Allah yang menghidupkan dan menggembirakan kita. Wujudnya kelihatan melalui kehadiran malaikat Gabriel yang membawa kabar gembira kepada Maria dengan ungkapan “salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau (Luk 1:28).

Ungkapan ini mempertegas bahwa sejak semula Allah telah memberikan kita karunia sebagai anak-anak Allah. Karena itu dengan salam yang diartikan sebagai warta gembira mengajak kita pun merasa bergembira seperti Maria. Kegembiraan Maria adalah wujud dari iman dan cara ia menanggapi tugas Allah. Cara Maria memperoleh karunia dikandung tanpa noda dosa dan kegembiraan dikunjungi oleh malaikat Gabriel dilatarbelakangi oleh keterbukaan hati Maria akan tugas sebagai Ibu Tuhan. Artinya, dengan hati yang terbuka, Bunda Maria menjadi teladan hidup dan karya kita.

Oleh karena itu, melalui Bunda Maria, apabila kita memiliki hati yang terbuka pada harapan dan tugas Allah, maka saat itulah kita memperoleh kegembiraan hidup karena dibebaskan dari dosa. Dengan kata lain, beriman dengan hati seperti Maria membebaskan kita dari ketakutan dosa dan maut serta semakin menghantar kita pada kegembiraan hidup karena Allah selalu beserta kita.

Manusia pertama jatuh dalam dosa diakibatkan oleh kerusakan hati yang ragu dan takut berhadapan dengan rencana keselamatan Allah. Sebaliknya, hati Maria terbuka terhadap tugas dan rencana Allah. Ia menguatkan harapan baru bagi kehadiran Kristus yang akhirnya menjadi Penyelamat kita dari dosa dan maut dengan seruan: “Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataan-Mu” (Luk. 1:38). Kemurnian hati Maria menjadi teladan yang menggembirakan hidup sehingga membantu kita hidup tulus, sederhana dan sadar diri di dunia ini. Maria menjadi teladan bahwa hidup dengan hati yang terbuka bagi Tuhan mengantar kita pada hidup yang menggembirakan karena terbebas dari dosa.

(Fr. Edo Salilo)

“Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataan-Mu” (Luk. 1:38).

Marilah berdoa:

Tuhan, ubahlah hati kami menjadi seperti hati-Mu. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini