“Janji Politik”: Renungan, Rabu 2 Desember 2020

0
1375

Hari Biasa Pekan I Adven (U)

Yes. 25:6-10a; Mzm. 23:1-3a,3b-4,5,6; Mat. 15:29-37

Saudara terkasih, beberapa daerah di Indonesia sebentar lagi akan melaksanakan pemilihan umum untuk memilih kepala daerah. Tahapan-tahapan pemilihan umum sudah dan sementara  digelar, mulai dari pendaftaran pasangan calon, penyampaian visi-misi, dan kampanye dari masing-masing calon. Banyak cara yang dilakukan oleh masing-masing pasang calon dan tim pemenangnya untuk memikat hati dari masyarakat. Setiap pasangan calon kepala daerah berusaha memikat hati masyarakat dengan begitu banyak janji, yang pada dasarnya untuk menyejahterakan daerah dan masyarakat. Demikianlah hari-hari ini diwarnai dengan begitu banyak janji yang belum pasti terealisasikan. Pengalaman kehidupan politik Indonesia menunjukkan bahwa janji kampanye hanya tetap menjadi janji ketika calon kepala daerah dilantik dan berkantor.

Bacaan hari ini menunjukkan bagaimana Allah tidak ingkar akan janji yang telah diikat-Nya dengan umat manusia. Yesaya memperdengarkan janji keselamatan Allah kepada bangsa Israel. Keselamatan yang telah diikat oleh Allah dan Abraham tidak pernah dilanggar oleh-Nya, walaupun manusia seringkali ingkar akan perjanjian itu. Allah tetap setia akan perjanjian tersebut. Keselamatan selalu dinyatakan oleh Allah bagi umat yang dipilih-Nya. Injil hari ini menunjukkan bagaimana keselamatan yang dijanjikan Allah, terpenuhi dalam diri Yesus Kristus. Tegerak oleh belas kasihan, Yesus menyembuhkan banyak orang dan memberi makan empat ribu orang yang telah mengikuti-Nya. Inilah pemenuhan janji Allah kepada umat manusia. Ini adalah bukti Allah mencintai umat manusia dan tidak ingkar akan janji yang telah diikat-Nya dengan umat manusia.

Saudara terkasih, janji keselamatan yang Allah telah berikan kepada kita semua, bukanlah sebuah janji politik. Allah bertindak konsekuen dengan janji yang telah Ia berikan kepada umat manusia. Ia senantiasa merealisasikan semua janji yang telah Dia ikat bersama umat manusia. Tidak pernah Allah ingkar janji. Walaupun Allah harus kehilangan anak sulung-Nya. Semuanya itu terjadi karena cinta dan belas kasihan Allah kepada umat manusia. Sama seperti Allah yang tidak ingkar dengan janji-Nya, kita diajak untuk setia kepada Allah. Kesetiaan kepada Allah harus menghantarkan kita pada rasa belas kasihan kepada sesama manusia. Belas kasih Allah akan berbuah dalam diri, ketika kita mampu membagikannya kepada orang lain.

(Fr. Theofilus Pontoh)

“HatiKu tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak itu” (Mat. 15:32).

Marilah berdoa:

Ya Allah, buatlah kami memahami belas kasihan-Mu. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini