“Menemukan Kerajaan Allah”: Renungan, Kamis 12 November 2020

0
1590

Pw. S.Yosafat, UskMrt (M)

Flm. 1:7-20; Mzm. 146:7,8-9a, 9bc-10; Luk. 17:20-25.

Ketika mencoba mengingat-ingat kembali waktu yang telah kita habiskan dalam hidup yang diberikan Tuhan kepada kita masing-masing, adakah kita pernah menyadari dan berusaha untuk memikirkan kembali apakah selama ini kita sudah hidup dalam jalan Tuhan dan tidak berada dalam kesesatan? Atau apakah kita hanya berpikir bahwa hal itu hanya akan menjadi penting bagi manusia pada saat menjelang akhir hidupnya saja dan tidak menjadi penting sekarang ini karena hidup baik yang sedang dirasakan?

Saudara yang terkasih, bacaan Injil mengingatkan umat Allah akan firman Yesus mengenai keberadaan Kerajaan Allah dan terlebih khusus menyadari akan kedatangannya. Dalam Injil, Yesus berfirman bahwa Kerajaan Allah datang tanpa tanda-tanda lahiriah. Kedatangan Kerajaan Allah juga bukan ditentukan berdasarkan perkataan orang lain dan juga bukan merupakan sebuah kehadiran yang akan terjadi pada masa yang akan datang, karena Yesus berfirman bahwa Kerajaan Allah sesungguhnya ada di antara kita. Akan tetapi, Kristus berfirman demikian: “Akan datang waktunya kamu ingin melihat satu dari pada hari-hari Anak Manusia itu dan kamu tidak akan melihatnya.”

Manusia cenderung lebih peka terhadap sesuatu yang lahiriah atau sesuatu yang hanya nampak bagi indera-indera manusiawi, sehingga sebagian besar hidup kita hanya dihabiskan untuk segala kepentingan yang bersifat duniawi. Firman Yesus menuntut kita untuk menyadari bahwa keselamatan itu hanya terdapat dalam Kerajaan Allah, sehingga penting bagi manusia untuk mengerti akan kedatangannya. Pengertian itulah yang dapat kita peroleh dengan mengikuti sumber kebenaran yang sejati yaitu Yesus Kristus, terlebih terhadap segala firman dan tindakan-Nya. Hal itu pula yang menjadi teladan dari Paulus, khususnya dalam pewartaannya terhadap Filemon agar dapat menerima muridnya sebagai saudara kekasih sebagaimana teladan Kristus.

Saudara yang terkasih, hari ini Gereja Katolik memperingati St. Yosafat, seorang martir yang dikasihi Kristus. Situasi umat pada masa dan tempatnya sungguh menuntut dia untuk senantiasa berjuang mewartakan kebenaran Kristus dan mempersatukan Gereja Kristiani. Iman itulah yang bahkan mendorong dia sampai rela untuk mengorbankan nyawanya sebagai martir Kristus. Namun, bukan untuk menuntut kita agar melakukan tindakan kemartiran tersebut, melainkan bacaan hari ini memberi pesan bagi kita untuk mempunyai jiwa kemartiran bersumber dari kebenaran yang sejati yaitu Kristus.

 (Fr. Valentino Alexandro Wullur)

Sambil berpegang pada firman kehidupan, agar aku dapat bermegah pada hari Kristus, bahwa aku tidak percuma berlomba dan tidak percuma bersusah-susah” (Flp. 2:16).

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, tuntunlah aku agar senantiasa melakukan kehendak-Mu. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini