“Kado Untuk Tuhan”: Renungan, Selasa 10 November 2020

0
1688

Pw. S. Leo Agung, PausPujG (P)

Tit. 2:1-8,11-14; Mzm. 37:34,18,23,27,29; Luk. 17:7-10.

Tiada alasan untuk tidak bersyukur karena sebenarnya tidak perlu lagi ditanya alasan mengapa harus bersyukur. Semua orang patut bersyukur: bersyukur atas nafas hidup, atas kemampuan diri, atas keluarga dan kerabat, atas keindahan dan faedah alam semesta. Tanpa disadari, banyak hal baik yang bukan berasal dari usaha-usaha kita tetapi karena datang dan diberikan dari luar. Orang beriman meyakini semuanya itu adalah berkat dari sang Pencipta. Masing-masing orang dapat merenungkan segala hal baik yang ditemukan dalam pengalaman hidupnya dan sudah pasti bahwa semuanya itu tidaklah sedikit. Keagungan cinta Tuhan sungguh tak dapat ditakar dan diukur manusia. Mengorbankan Putra-Nya tanpa ragu bagi keselamatan manusia adalah hal yang rumit dan melampaui akal sehat manusia, tetapi justru itulah anugerah terbesar dari Allah yang patut disyukuri manusia.

Perihal hamba dan tuan dalam bacaan Injil diibaratkan sebagai manusia dan Allah. Dalam Kitab Suci, alasan seseorang bekerja sebagai hamba salah satunya karena tuannya telah membelinya atau karena orang itu tak mampu membayar hutang. Manusia diibaratkan sebagai hamba karena Allah telah melunaskan hutang dosa manusia dengan pengorbanan Kristus sebagaimana dikatakan rasul Paulus: “Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar” (1 Kor. 7:23). Maka sudah sepantasnyalah manusia mengabdi Allah dengan seluruh kehidupannya. Manusia patut bersyukur kepada Tuhan, karena walaupun penuh kekurangan Tuhan tetap menjadikan manusia sebagai alat-Nya, bahkan Tuhan menjadikan manusia mitra keselamatan bagi seluruh dunia melalui Gereja-Nya. Bacaan Injil hari ini tidak bermaksud menerangkan Allah sebagai tuan yang bertingkah otoriter terhadap hambanya, tetapi memang sebagai hamba Allah manusia harus sepenuhnya melayani Allah sebagai tuannya. Allah telah berjasa bagi manusia karena telah melepaskannya dari cengkraman dosa dan maut akibat manusia pertama. Jadi, bersyukur kepada Tuhan sudahlah sepantasnya.

Bentuk syukur yang paling intens diungkapkan dengan jelas dalam bacaan pertama. Hidup dengan saleh adalah kado terindah yang dapat manusia berikan bagi Tuhannya. Sebagaimana Yesus berani mempersembahkan hidup-Nya demi keselamatan manusia, maka marilah kita memperbaiki diri kita dan hidup sesuai kehendak Tuhan agar supaya diri kita layak menjadi kado bagi Tuhan.

(Fr. Giovani Gosal)

“Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan” (Luk. 17:10).

Marilah berdoa:

Tuhan, bentuklah diriku sesuai keinginan hati-Mu supaya dapat kujadikan kado terindahku bagi-Mu. Amin.

 

 

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini