“Siap atau tidak?”: Renungan, Minggu 8 November 2020

0
2080

Hari Minggu Biasa XXXII (H)

Keb. 6: 13-17; Mzm. 63: 2, 3-4, 5-6, 7-8; 1Tes. 4: 13-18; Mat. 25: 1-13

Setiap hari Minggu kita berkumpul di gereja mengikuti perayaan ekaristi. Pastinya sebelum datang ke gereja ada beberapa hal yang harus kita siapkan. Misalnya, menggunakan pakaian yang layak dan pantas. Namun yang terpenting yaitu kesiapan diri kita. Pentingnya disposisi batin sebelum mengikuti perayaan ekaristi. Hal ini sangat berpengaruh ketika kita berdoa. Tidak mungkin seorang yang sedang marah, jengkel, dan sakit hati dapat berdoa dengan tenang. Sebaliknya, bila suasana batin kita dipenuhi dengan aura-aura positif pasti kita mampu berkonsentrasi untuk berdoa. Kita mampu mengalami dalam suasana ekaristi itu bahwa Yesus datang untuk melawati kita dan mendengarkan doa-doa kita.

Bacaan-bacaan hari ini mau menghantar kita semua untuk melihat hal-hal positif di sekitar kita dan menjadikannya sebagai bantuan bagi kita untuk menjadi orang-orang yang bijak. Bacaan pertama menegaskan bahwa “kebijaksanaan itu ditemukan oleh orang-orang yang mencarinya. Kebijaksanaan itu bersinar dan tak dapat layu, mudah dipandang oleh yang kasih kepadanya”, (Keb. 6:13). Orang yang mencari kebijaksanaan pastilah orang-orang yang siap sedia, selalu berjaga-jaga. Seorang yang memiliki kebijaksanaan tidak akan mengalami kesusahan. Dalam hidup kadang ada banyak masalah yang datang. Menghadapi setiap persoalan itu orang bahkan rela melakukan hal-hal yang tidak benar.

Rasul Paulus dalam bacaan kedua mengingatkan jemaat di Tesalonika yang saat itu merasa cemas dan tidak mempunyai pengharapan akan Kristus. Mereka cemas tentang nasib mereka yang sudah meninggal sebelum Kristus datang. Rasul Paulus menegaskan bahwa “jika kita percaya bahwa Yesus telah mati dan telah bangkit, maka kita percaya juga bahwa mereka yang telah meninggal dalam nama Yesus akan dikumpulkan Allah bersama dengan Yesus dan kita yang hidup dan masih tinggal sampai kedatangan Tuhan akan diangkat bersama-sama dengan mereka”.

Dalam Injil, penginjil Matius menegaskan pentingnya kesiapan diri. Injil mengisahkan bagaimana perbedaan kesiapan antara orang yang bijak dan yang bodoh. Orang-orang yang bijak dan yang siap sedia akan diperbolehkan masuk ke dalam pesta perjamuan. Sebaliknya mereka yang bodoh tidak diterima.  Kita pun diajak agar memiliki semangat siap sedia dalam setiap situasi. Karena itulah doa, derma, kurban dan kesaksian mampu menghantar kita pada pengharapan akan Kristus. Orang yang siap sedia pasti memiliki pengharapan yang teguh.

                                                                                                             (Fr. Stenly Ambun)

“Karena itu, berjaga-jagalah sebab kamu tidak tahu akan hari maupun saatnya” (Mat. 25:13).

Marilah berdoa:

Tuhan, semoga aku selalu siap Engkau pakai sebagai pekerja di ladang-Mu. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini