Hari Biasa (H)
2Ptr. 1:1-7; Mzm. 91:1-2,14-15ab,15c-16; Mrk. 12:1-12
Dalam kalangan penggemar media sosial, facebook misalnya, banyak di antaranya pasti merasa bosan ketika menemukan berita yang sama diunggah atau dibagikan oleh beberapa orang sekaligus.
Mungkin orang itu akan menggerutu dalam hatinya “huhhh… berita itu lagi”. Begitu pun dalam hubungan antara orangtua dan anak. Biasanya seorang anak merasa jengkel ketika setiap kali menemukan nasehat yang sama dari orangtua.
Dalam hidup menggereja pun kadang ditemukan hal serupa. Biasanya umat akan merasa gerah ketika mendengar khotbah pastor paroki yang menurutnya “itu-itu saja”. Singkatnya, banyak orang tidak menginginkan hal yang disampaikan secara berulang-ulang padanya.
Injil hari ini mengisahkan perumpamaan tentang penggarap-penggarap kebun anggur. Pemilik kebun anggur dalam Injil meggambarkan tentang Allah sendiri. Para hamba yang diutus merupakan para nabi yang diutus Allah sebelumnya.
Putra pemilik kebun anggur menggambarkan tentang Yesus. Sementara penggarap-penggarap kebun anggur itu kiasan untuk imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat.
Perumpamaan ini memberikan gambaran pada kita tentang bagaimana kasih Allah itu kepada manusia. Cinta-Nya kepada manusia Ia tunjukkan dengan mengutus para Nabi untuk menyelamatkan manusia.
Bahkan ketika mereka semua ditolak, Ia mengutus pula putera tunggal-Nya untuk menjumpai umat manusia yang berdosa. Meskipun kenyataanya putra tunggal-Nya pun mesti menanggung penderitaan sebelum dibunuh dengan keji oleh mereka yang menolak apa yang diberitakan-Nya. Padahal, Ia memberitakan kebenaran yang menuntun mereka pada keselamatan.
Dalam kehidupan sehari-hari, mungkin kita pun mirip seperti imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat dalam Injil. Kita mungkin langsung menolak apa yang disampaikan pada kita karena merasa jengkel dengan hal tersebut yang senantiasa berulang-ulang disampaikan.
Sehingga apa yang sesungguhnya penting demi kebaikan dan keselamatan kita lewat penyampaian itu kita abaikan. Sikap acuh tak acuh, tak peduli dengan perkataan orang lain bahkan egois akan membawa orang pada sikap tidak percaya terhadap orang lain.
Tidak percaya pada perkataan sesama mungkin boleh saja karena mungkin kita punya pengalaman dibohongi olehnya. Namun, sikap tidak percaya pada kasih Allah mesti disingkirkan. Allah adalah sumber kebenaran.
Sebab itu kita mesti senantiasa menaruh kepercayaan pada kehendak Allah yang mau menyelamatkan semua umat manusia, termasuk kita. Kita bisa belajar dari pemazmur dan dengan mantap berseru, “Ya Allah, padaMulah aku percaya”.
(Fr. Frans Labia)
“Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru” (Mrk. 12:10)
Marilah berdoa:
Ya Tuhan, semoga aku tetap percaya bahwa Engkau selalu mencintaiku. Amin.











