“Kebahagiaan Sejati”: Renungan, Minggu 1 November 2020

0
3046

HARI RAYA SEMUA ORANG KUDUS

Why. 7:2-4,9-14; Mzm. 24:1-2,3-4ab,5-6; 1Yoh. 3:1-3; Mat. 5:1-12a

Ada ungkapan yang mengatakan demikian: “Berakit-rakit ke hulu berenang-renang ketepian, bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian”. Ungkapan ini sangat bagus untuk kita renungkan dalam kehidupan. Ketika orang mengejar sesuatu pasti ada begitu banyak tantangan yang ia harus lewati untuk mencapai tujuan tersebut. Dalam hal ini, orang harus merasakan penderitaan terlebih dahulu baru bisa mencapai kebahagiaan. Inilah hadiah yang dimiliki oleh semua orang kudus yang kita rayakan pada hari ini. Mereka telah dikatakan sudah bahagia karena telah mengalami penderitaan terlebih dahulu sebagai pengikut Kristus.

Bacaan-bacaan Kitab Suci pada Hari Raya ini pun mengarahkan kita sebagai pengikut Kristus untuk berjalan dalam kekudusan. Siapakah orang-orang Kudus itu? Dalam bacaan pertama Kitab Wahyu memberikan kesaksian yang bagus, “Aku melihat suatu kumpulan besar orang banyak yang tidak terhitung jumlahnya. Mereka terdiri dari segala bangsa dan suku kaum dan bahasa. Mereka semua berdiri di hadapan takhta dan di hadapan Anak Domba, memakai jubah putih dan memegang daun-daun palem di tangan mereka”. Mereka yang mengenakan jubah putih adalah para kudus Allah, karena mereka telah mencuci jubah mereka dan membuatnya putih di dalam darah Anak Domba.

Dalam bacaan yang kedua, Yohanes mengatakan bahwa orang-orang kudus adalah mereka yang akan melihat Kristus dalam keadaan-Nya yang sebenarnya. Yohanes melihat bahwa betapa besar kasih Allah yang telah dikaruniakan Bapa kepada kita. Sehingga, sebagai anak-anak Allah kita bertugas untuk menyucikan diri seperti Dia yang suci.

Dalam bacaan Injil, Tuhan mengajar tentang Sabda Bahagia kepada para murid-Nya. Orang-orang Kudus bagi Yesus sendiri yakni mereka yang miskin, berdukacita, lemah lembut, lapar dan haus akan kebenaran, murah hati, suci hati, membawa damai, dianiaya karena Yesus, dan mereka yang difitna. Sebab, Sabda Bahagia merupakan ungkapan nyata diri Yesus bagi umat manusia.

Maka orang yang mengikuti-Nya sudah sepantasnya menghayati Sabda Bahagia ini, walaupun sudah pasti ada konsekuensi yang harus diterima. Hal ini menunjukkan bahwa Yesus menyediakan suatu logika baru yakni salib kehidupan. Menolak salib berarti menolak untuk bahagia. Berani menerima salib berarti siap mengalami kebahagiaan. Inilah pelita yang dapat menerangi langkah hidup kita menuju pada kekudusan-Nya.

(Fr. Billy Leonardo Tendean)

Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di surga (Mat. 5:12).

Marilah Berdoa:

Ya Tuhan, mampukanlah kami untuk memikul salib kehidupan ini. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini