“Aku Rindu!”: Renungan, Kamis 29 Oktober 2020

0
1537

Hari Biasa (H)

Ef 6: 10-20; Mzm. 144:1,2,9-10; Luk. 13:31-35.

Sebuah kerinduan yang dirasakan menandakan bahwa ada sesuatu yang hilang daripada seseorang. Sesuatu yang pernah dirasakan melengkapi dan membawa sukacita di dalam dirinya. Maka ketika seseorang merasa rindu akan pribadi atau suasana, maka dia akan berusaha sebisa mungkin supaya dapat berjumpa dan mengalami apa yang dia rindukan. Kisah dalam Injil menunjukkan bagaimana perutusan Kristus menjadi kerinduan-Nya untuk mengumpulkan anak-anak Bapa.

Bacaan Kitab Suci pada hari ini menarik kembali pemikiran setiap orang akan kehidupan yang fana ini namun juga mengingatkan bahwa kehidupan merupakan harapan dari Tuhan untuk diri manusia dan sesama. Lukas mengisahkan ketika Kristus berada di wilayah Herodes, Dia diperingatkan oleh orang-orang Farisi bahwa jika Dia berada terus di wilayahnya dan tetap melaksanakan segala karya-Nya, maka Herodes akan membunuh-Nya. Tapi jawaban Kristus kepada mereka bukanlah sebuah ketakutan dan kepatuhan terhadap perintah dan ancaman manusia. Dia telah melakukan apa yang diwartakan para nabi jauh sebelum kedatangan-Nya dan kelahiran orang-orang sezaman-Nya. Maka jawaban Kristus kepada para Farisi bukan semata-mata jawaban untuk tidak menyerah dan menantang, melainkan memperingatkan bahwa apa yang diramalkan di dalam kitab para nabi sedang berlangsung di hadapan mereka.

Jawaban tentang waktu tiga hari lagi, bukan hanya jawaban untuk tawar-menawar dengan ancaman ini tapi mau mengatakan bahwa perutusan-Nya tak akan pernah terhenti oleh ketakutan hukuman dan pembunuhan fisik tapi tetap akan berlanjut dan berpuncak di Yerusalem tempat di mana Dia akan ditangkap, disiksa, disalibkan, wafat dan pada hari yang ketiga bangkit dari antara orang mati. Itulah makna dari jawaban Kristus bahwa Dia rindu mengumpulkan dan menyelamatkan umat-Nya dengan mengorbankan diri-Nya.

Fenomena yang sedang dirasakan pada tahun ini menjadi sebuah kesempatan untuk merefleksikan bahwa memang akhir dan tujuan kehidupan adalah kematian. Sebab kematian berlaku bagi setiap orang tanpa terkecuali. Pandemi boleh saja membawa ancaman, dan ketakutan namun tidak menghalangi setiap orang untuk mengasihi Allah dan sesamanya. Rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Efesus, mengingatkan hakekat orang Kristen adalah kebenaran, keadilan dan doa bagi sesama dalam perjuangan di kehidupan ini. Kristen sejati tak pernah menyerah oleh ancaman kehidupan sebab kerinduan-Nya membakar hati setiap orang untuk berbagi kasih dan kebenaran.

(Fr. Joctaf Geres)

“Terpujilah TUHAN, gunung batuku, yang mengajar tanganku untuk bertempur, dan jari-jariku untuk berperang” (Mzm. 144: 1).

Marilah Berdoa :

Ya Kristus, ajarlah kami untuk berani mengasihi dan mewartakan kebenaran-Mu. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini