Hari Biasa (H).
Ef. 4:7-16; Mzm. 122:1-2,3-4a,4b-5; Luk. 13:1-9.
Situasi dunia di tengah pandemi covid-19 merupakan situasi yang tidak diinginkan oleh seluruh umat manusia. Virus ganas yang sudah memakan banyak korban dalam beberapa bulan terakhir ini, merupakan musibah terbesar yang kini harus dihadapi. Istilah musibah atau bencana seringkali kita kaitkan dengan dosa. Dalam situasi ini, mungkin banyak di antara kita yang mengeluh kepada Tuhan: “Apa dosa kami? Apa salah kami? Sehingga musibah ini harus menimpa kami? Sebab, yang ada di pikiran kita ialah bahwa musibah adalah siksaan dari Tuhan akibat dari dosa dan salah yang kita perbuat.
Pemikiran kita saat ini sesungguhnya sama dengan pemikiran orang-orang di zaman Yesus. Dalam Injil dikisahkan tentang beberapa orang yang datang kepada Yesus dan memberitahukan tentang orang-orang Galilea yang dibantai oleh Pilatus dan tentang kedelapan orang yang telah meninggal karena ditimpa menara Siloam. Mereka berpikir bahwa orang-orang yang mendapat malapetaka itu sudah menerima siksanya karena dosa-dosa mereka. Namun, nampak jelas bahwa Yesus tidak setuju dengan pemikiran mereka. Yesus pun berkata, “Sangkamu orang-orang Galilea ini lebih besar dosanya dari pada dosa semua orang Galilea yang lain, karena mereka mengalami nasib itu ?” Kedua bencana itu bukanlah suatu hukuman atas dosa-dosa mereka, tetapi merupakan peringatan kepada mereka.
Selain itu, bencana yang diderita manusia, seperti yang dialami oleh orang-orang Galilea, bagi Yesus hanyalah hal yang biasa, sebab semua orang pasti akan mati dengan salah satu cara. Namun, yang luar biasa ialah bahwa kita masih diberi kehidupan, walaupun seringkali tidak mempergunakan hidup kita ini dengan baik. Karena itu, Allah selalu memberi kita kesempatan. Sebab, Ia selalu menunjukkan kesabarannya kepada kita walaupun kita tidak menghasilkan apa-apa seperti halnya pohon ara yang tidak berbuah.
Tetapi Tuhan selalu tetap bersabar dengan kita, memperingatkan kita melalui musibah-musibah yang terjadi di sekitar kita. Sebab itu, musibah sesungguhnya tidak selalu berkaitan dengan dosa. Namun, musibah harus dipandang sebagai suatu tantangan yang Tuhan berikan kepada kita, untuk membangkitkan rasa tobat dan berbenah diri dalam kehidupan kita. Dengan demikian, jadikanlah berbagai musibah yang dialami saat ini sebagai peringatan dan dasar bagi kita untuk bertobat dan mulai kembali untuk membaharui diri menjadi lebih baik lagi.
(Fr. Tonny Kuntag)
“Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian” (Luk. 13:3b).
Marilah berdoa:
Ya Tuhan, arahkanlah hidupku untuk semakin dekat dengan-Mu. Amin.











