“Usaha Memelihara Kesatuan”: Renungan, Jumat 23 Oktober 2020

0
1421

Hari Biasa (H)

Ef. 4:1-6; Mzm. 24:1-2,3-4ab,5-6; Luk. 12:54-59

Saudari-saudari terkasih, kesatuan, perdamaian, atau persekutuan merupakan hal-hal yang amat penting dan berharga bagi dunia. Banyak orang tidak menginginkan adanya peperangan, pertikaian, perselisihan, dan lain sebagainya. Sebisa mungkin orang pasti akan mengusahakan perdamaian satu dengan yang lainnya.

Pada hari ini, bacaan-bacaan Kitab Suci hendak menunjukkan bagaimana seharusnya kita sebagai manusia hidup dalam persekutuan, baik dengan sesama manusia maupun dengan Allah. Dalam bacaan Injil, Yesus hendak mengajarkan kita untuk tahu melihat dan menilai kehidupan kita sehari-hari. Adapun dari hal tersebut, Yesus juga hendak menunjukkan bagaimana seharusnya kita pergi berdamai dengan lawan-lawan kita, sebelum akhirnya mereka menjatuhkan atau menghancurkan kita. Dari penegasan Yesus, kita diajarkan bahwa yang namanya pertikaian, perselisihan, peperangan, dan lain sebagainya, tidak akan membawa hasil yang baik bagi kita. Hasil yang baik hanya bisa diperoleh dari perdamaian dan persekutuan.

Dalam bacaan pertama, Paulus telah memberikan banyak sekali nasehat dan penegasan mengenai persekutuan jemaat Kristus. Kita hendaknya selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar, serta hendaknya selalu menjaga persekutuan kita, yakni: satu Tuhan, satu iman, satu baptisan, dan satu Allah dan Bapa.

Menciptakan atau menjaga perdamaian dan persekutuan itu tidaklah mudah, terlebih di zaman modern ini. Dewasa ini, banyak sekali terjadi persoalan yang menimbulkan perselisihan, perpecahan, dan perang satu dengan yang lain, tidak terkecuali di antara umat beriman itu sendiri. Hal itu sebagian besar disebabkan oleh sikap manusia yang tidak mau menerima perbedaan. Adanya sikap iri hati, sombong, rakus, dan tidak sabaran membuat manusia sulit untuk membentuk persekutuan di antara mereka. Adapun ketika nantinya terbentuk suatu persekutuan, muncul lagi satu permasalahan besar, yaitu bagaimana mempertahankan persekutuan tersebut.

Melihat permasalahan ini, kita perlu kembali kepada penegasan Yesus dan Paulus. Kendati sulit dan terkesan mustahil, tetapi kita harus memulai inisiatif untuk mengusahakan perdamaian dengan lawan-lawan kita. Adapun tentang hal itu, kita juga harus melatih sikap kita menjadi rendah hati, lemah lembut, dan sabar ketika menghadapi orang lain. Jika demikian, maka diharapkan perdamaian dan persekutuan akan ada di antara kita. Mereka yang hidup dalam perdamaian dan persekutuan, terlebih dalam persekutuan dengan Allah, merupakan orang-orang pilihan.

(Fr. Dean Rengkung)

“Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu” (Ef. 4:2).

Marilah Berdoa:

Tuhan, semoga aku senantiasa dapat membawa perdamaian bagi sesama dan hidup dalam persekutuan dengan Dikau. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini