“Pertanyaan”: Renungan, Sabtu 2 Juni 2018

0
2564

Hari Biasa (H)

Yud. 17.20b-25; Mzm. 63:2,3-4,5-6; Mrk. 11:27-33 

Sebuah pertanyaan sungguhlah berarti. Baik tentang hal-hal yang sederhana maupun yang misterius. Pertanyaan dimaksudkan agar manusia  memperoleh suatu pengertian atau jawaban..

Bacaan-bacaan hari ini menggarisbawahi pentingnya dialog yang baik untuk menemukan jawaban. Demikianlah setiap ajaran gereja dimulai dengan refleksi dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan penuntun untuk sampai pada kehendak Allah.

Hal ini dapat kita saksikan secara nyata dalam refleksi-refleksi teologis dari para teolog dan bapa-bapa Gereja, yang diwarnai dengan pertanyaan-pertanyaan tentang Allah, manusia, dunia, surga dan sebagainya.

Dalam Injil Markus dilukiskan bagaimana imam-imam kepala, ahli-ahli taurat dan tua-tua bertanya-tanya kepada Yesus dengan sebuah pertanyaan: “Dengan kuasa manakah Engkau melakukan hal-hal itu?”

Mereka tidak percaya akan semua yang Yesus perbuat sehingga mereka bertanya untuk mendapat sebuah jawaban. Yesus juga balik bertanya kepada mereka dan mereka tidak bisa menjawab.

Sejak Yesus tampil di muka umum, mewartakan dan membuat mujizat, orang-orang farisi,  ahli-ahli taurat, para tua-tua dan imam-imam sudah bermusuhan dengan Yesus.

Karena Yesus menarik banyak orang pada jalan yang benar sehingga banyak pengikut-Nya. Bahkan tokoh-tokoh di atas mencobai Yesus dengan rupa-rupa pertanyaan agar mereka mendapati kesalahan pada-Nya. Yesus tahu isi hati mereka.

Yesus mengajak kita untuk hati-hati dengan sebuah pertanyaan, karena sebuah pertanyaan bisa berupa jebakan, cobaan dan bahkan mendatangkan permusuhan.

Gunakanlah dengan baik mulut kita untuk bertanya hal-hal yang berguna untuk dipahami bukan untuk membuat diskusi panjang lebar tentang sesuatu hal dan akhirnya terjadi permusuhan.

Yesus memberi contoh. Dengan teliti Yesus mendengar pertanyaan mereka dan mulai bertanya balik sehingga mereka tidak tahu menjawab. Yesus tidak mengajarkan kita untuk bertanya dan membuat orang lain bingung oleh karena pertanyaan.

Sebaliknya, ajukanlah pertanyaan-pertanyaan untuk menemukan nilai-nilai kehidupan yang membantu diri kita dan orang lain. Pertanyaan-pertanyaan sedemikian muncul setelah melalui refleksi dan doa.

(Fr. Petrus Serin)

“Ya Allah, Engkaulah Allahku, aku mencari Engkau, jiwaku haus kepada-Mu, tubuhku rindu kepada-Mu, seperti tanah yang kering dan tandus, tiada berair” (Mzm. 63:2).

Marilah berdoa:

Tuhan, bantulah kami menggunakan akal budi kami untuk memuliakan nama-Mu.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini