HM Biasa XXV (H)
Yes. 55:6-9; Mzm. 145:2-3,8-9,17-18; Flp. 1:20c-24,27a; Mat. 20:1-16a
Kita semua mau mendapatkan yang terbaik. Anak-anak mendambakan yang terbaik dari orang tua. Orang tua juga merindukan yang terbaik dari anak-anak. Begitu pula seorang istri dan suami saling mengharapkan yang terbaik dari masing-masing. Terlebih, kita menghendaki untuk menerima yang terbaik dari Tuhan.
Tuhan juga berkehendak supaya kita semua mendapatkan yang terbaik dari-Nya. Hal ini diceritakan dalam Injil hari ini. Seorang pekerja mendapatkan pekerjaan pada pagi hari. Pastilah ia bersukacita. Akan ada upah di penghujung hari. Begitu pula pekerja yang menerima tawaran kerja pada pukul sembilan pagi. Rasa was was seandainya tidak mendapatkan pekerjaan sirna seketika. Diganti kegembiraan. Apalagi pekerja yang mendengar panggilan untuk bekerja pada pukul dua belas siang. Rasanya mau melonjak kegirangan. Terbayang sudah keluarga yang akan menerima buah dari kerjanya. Tak terbayangkan juga pekerja yang menerima pekerjaan pada pukul tiga. Kala matahari akan terbenam dan hari berlalu tanpa rezeki, dia mendapatkan tawaran pekerjaan. Dan sungguh tak terlukiskan pula pekerja yang mendapatkan pekerjaan pada pukul lima sore. Saat hari akan berakhir dan berkisah tragis, tiba-tiba ia mendengarkan panggilan untuk bekerja. Pastilah ada sukacita yang hanya dapat diungkapkan dengan “terima kasih” dan air mata bahagia.
Namun Tuhan juga mendambakan yang terbaik dari kita. Tuhan menghendaki supaya kita sungguh-sungguh bahagia dengan rancangan dan berkat-Nya.
Yang terjadi yaitu kita suka melihat apa yang diterima orang lain dari Tuhan. Lebih buruk lagi, kita merasa orang lain menerima yang terbaik dari Tuhan. Entah apa yang merasuki kita. Tapi kita cenderung melihat bahwa kita menerima lebih kurang baik daripada orang lain. Akibatnya, kita menjadi iri hati, tidak puas, tidak bersyukur. Akibatnya, Tuhan tidak mendapatkan apa yang terbaik dari kita. Tiada syukur dan pujian untuk Tuhan.
Tuhan punya berkat dan rancangan-Nya. Rancangan-Nya memang bukanlah rancangan kita. Tapi rancangan-Nya pastilah yang terbaik untuk kita, untuk sesama kita, untuk kita semua. Maka berbahagia karena rancangan Tuhan yang terbaik dapat terjadi kapan saja. Karena rancangan yang terbaik itu berlaku bagi hidup kita atau juga bagi hidup sesama kita. Kita mesti merasa bahagia karena hal terbaik yang kita terima atau diterima oleh sesama kita. Inilah yang akan membuat kita berbahagia tanpa habis habisnya.
(Pst. Ventje F. Runtulalo, Pr)
“Aku mau memberikan kepada orang yang masuk terakhir ini sama seperti kepadamu. Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku? Atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati?” (Mat. 20:14-15).
Marilah berdoa:
Ya Tuhan, berikanlah aku pikiran yang bijaksana dan hati yang terbuka untuk memahami dan mensyukuri rancangan-Mu dalam hidupku dan sesamaku. Amin.











