Hari Biasa (H)
1Kor. 15:35-37,42-49; Mzm. 56: 10, 11-12, 13-14; Luk. 8: 4-15.
Semua orang yang ingin sukses memiliki lahan untuk menumbuhkan impiannya itu. Ia layaknya seorang penabur yang keluar untuk menaburkan benihnya. Tak peduli sesulit apapun hambatan, Ia terus membawa benih dan menaburkan semua itu di ladang. Agar supaya benih yang ditabur itu bisa bertumbuh, maka dipersiapkan segala sesuatu yang mendukung pertumbuhan benih itu. Kesabaran adalah kunci ia kelak bisa memanen hasilnya.
Bacaan Injil hari ini mengisahkan perumpamaan tentang benih. Benih yang jatuh di jalan adalah karya Allah yang hadir dalam diri seseorang namun hilang begitu saja karena si jahat merampas daripadanya. Benih yang jatuh di tanah berbatu adalah karya Allah yang mampu tumbuh, tetapi tidak berakar pada hati orang. Tidak berakar karena terjadi pencobaan. Benih yang jatuh dalam semak duri berarti karya Allah bertumbuh, tapi kekuatiran dan kenikmatan hidup justru menghimpitnya hingga sulit berkembang. Akhirnya benih yang tumbuh di tanah yang subur berarti karya Allah menghadirkan iman yang terwujud dalam perkataan, sikap dan perbuatan. Allah hadir dan bersemayam dalam hidup mereka yang memiliki lahan subur.
Dalam bacaan Surat Rasul Paulus kepada jemaat di Korintus, Paulus menegaskan kebangkitan badan itu seperti benih. Benih itu harus mati supaya bisa bertumbuh. Seperti halnya kebangkitan yang dialami Yesus. Ia mati di kayu salib dan bangkit dengan jaya. Manusia juga akan mengalami kematian. kematian yang dialami oleh manusia ibarat biji yang ditaburkan. Biji yang jatuh ke tanah mati lalu tumbuh menjadi tunas baru. Kematian yang dialami oleh manusia itu menjadi jalan menuju kebangkitan dan hidup abadi dengan Yesus.
Demikianlah benih juga ditaburkan dalam diri kita masing-masing. Seberapa dan seperti apa hasilnya, sangat tergantung pada kesabaran serta disposisi batin dan kehendak dari kita masing-masing. Inilah gambaran yang dapat dipetik dari perumpamaan hari ini. Hati kita bagaikan tanah yang dipakai oleh Tuhan untuk menaburkan benih Sabda-Nya. Benih itu akan bisa bertumbuh dan menghasilkan buah yang baik bila kita memiliki lahan yang baik. Lahan yang baik itu adalah hati yang baik, hati yang tahu bersyukur dan berterima kasih, hati yang terbuka dan solider, hati yang berbelaskasih, hati yang setia dan beriman.
(Fr. Kostan Tunyanan)
“Yang jatuh di tanah yang baik itu ialah orang, yang setelah mendengar firman itu, menyimpannya dalam hati yang baik dan mengeluarkan buah dalam ketekunan” (Luk. 8:15).
Marilah berdoa:
Ya Tuhan semoga aku setia mendengarkan dan menghayati Sabda-Mu agar hidupku senantiasa terarah kepada-Mu. Amin











