Hari Biasa (H)
1Kor. 15:1-11; Mzm. 118:1-2, 16ab-17,28; Luk. 7:36-50
Injil hari ini mengisahkan tentang Yesus yang mengampuni perempuan berdosa yang datang mengurapi kaki-Nya. Pertanyaannya, mengapa perempuan itu datang? Apakah dia sudah tahu sebelumnya siapa itu Yesus? Apakah dia tidak malu datang kepada Yesus yang dikelilingi banyak orang sementara dia tahu siapa dia di mata masyarakat?
Pertanyaan pertama mungkin dengan gampang saja dijawab bahwa sudah barang tentu ia tahu Yesus itu seorang nabi. Namun pertanyaan kedua perlu kita renungkan secara mendalam. Perempuan ini sadar siapa dirinya. Ia dianggap sebagai perempuan pendosa oleh banyak orang. Namun sekalipun dihakimi sebagai pendosa, ia tidak malu datang kepada Yesus untuk meminta pengasihan. Padahal waktu itu banyak orang mengelilingi Yesus. Ia tersungkur di bawah kaki Yesus, menangis, membasahi kaki Yesus dengan air mata dan menyekanya dengan rambutnya serta meminyakinya dengan minyak wangi. Tidak sampai di situ, ia juga mencium kaki Yesus.
Berlutut dan menangis dikaki Yesus merupakan ungkapan pertobatan yang mendalam. Wanita itu sungguh merasa dirinya sangat berdosa, hina, dan kecil di mata Tuhan, sehingga harus berlutut di bawah kaki-Nya. Berkat iman dan aksinya yang tidak kenal malu itu, ia kemudian memperoleh rahmat pengampunan. Dosanya yang banyak itu telah dihapuskan oleh Tuhan. Bahkan sebagai bonusnya, ia mendapat berkat dari Yesus sebelum ia pergi.
Dunia sekarang ini penuh dengan egoisme dan rasa gengsi yang tinggi. Kata “maaf” seringkali tidak dapat menyelesaikan masalah. Kebanyakan orang, lebih suka menyelesaikan masalah dengan kekerasan. Tidak peduli apakah dia salah atau benar. Sikap gengsi dan malu menutup pintu hati orang untuk sebuah maaf. Padahal maaf tidak seperti rumusan matematika yang buat pening kepala atau membuat orang sakit malaria; maaf itu sederhana sekali. Kita bisa belajar dari pengalaman iman wanita berdosa bersama Yesus dalam Injil hari ini. Tanpa malu atau gengsi, ia datang kepada Yesus untuk mohon pengampunan dosa. Berkat pengampunan itu, ia dapat hidup merdeka dari dosa.
Tidak ada kata terlambat untuk datang minta maaf kepada Tuhan, selama kita masih bernafas di dunia ini. Ingat kisah kedua penjahat yang disalibkan bersama Yesus. Mereka berdua tidak dapat berbuat apa-apa karena kedua tangan dan kaki terpaku di salib. Hanya kata mohon pengampunan yang keluar dari mulut yang bisa mereka lakukan. Toh, mereka mendapat pengampunan luar biasa dari Yesus. Pengampunan membuat mereka memiliki firdaus abadi. Maka marilah kita menciptakan firdaus yang indah di tengah kita dengan mulai dari hal sederhana dan kecil yaitu saling memaafkan. Dan jangan pernah malu datang kepada Tuhan, karena Ia adalah sang pengampun yang rahim.
(Fr. Ignatius Kisa)
“Tetapi Yesus berkata kepada perempuan itu: Imanmu telah menyelamatkan engkau, pergilah dengan selamat!” (Mat. 7:50).
Marilah berdoa:
Tuhan, kasihanilah aku orang berdosa ini. Amin.











