“Pengampunan”: Renungan, Minggu 13 September 2020

0
1983

Minggu Biasa XXIV (H)

Sir.27:30 – 28:9; Mzm.103:1-2, 3-4, 9-10, 11-12; Rm.14:7-9;Mat.18:21-35

Satu kisah indah yang diingat oleh banyak orang tentang Santo Johanes Paulus II ketika ia masih menjadi Paus, yakni pengampunan yang diberikan kepada Mehmet Ali Agca, yang menembaknya. Tentu masih banyak kisah pengampunan lain yang indah dan inspiratif, termasuk yang diceritakan dalam Kitab Suci, misalnya ketika Stefanus mendoakan mereka yang akan merajamnya, dan juga ketika Yesus sendiri mendoakan mereka yang menyalibkan Dia. Dari banyak kisah pengampunan yang kita kenal, nyata bahwa pengampunan merupakan sesuatu yang indah untuk dikisahkan, tetapi tak mudah untuk dilaksanakan.

Bacaan pertama mengajak kita untuk melihat penjelasan Kitab Putera Sirakh mengenai buah dari rasa dendam dan amarah yang tersimpan dalam hati orang. Barangsiapa membalas dendam, akan dibalas oleh Tuhan dengan mengindahkan segala dosanya. Karena itu, orang harus membuka hatinya untuk mengampuni sesama agar dosa-dosanya dihapuskan. Dengan menjauhi pertikaian, maka kita akan semakin mengurangi dosa. Di sini, Kitab Putera Sirakh mengajak kita untuk menyadari bahwa pengampunan tak akan pernah datang jika tetap ada dendam di dalam hati. Menyimpan dendam dan tidak mau membuka hati untuk mengampuni, merupakan penimbunan dosa dalam diri. Perbuatan dosa itu mengingkari perjanjian dengan Tuhan yang Maha Pengampun.

Ajakan untuk mengampuni juga secara lebih jelas ditunjukkan melalui bacaan Injil, ketika Petrus bertanya kepada Yesus: “Sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadapku?” Yesus menjawab, “Bukan cuma sampai tujuh kali, melainkan tujuh puluh kali tujuh kali.” Melalui jawaban ini, Yesus hendak mengingatkan bahwa belas kasih  itu merupakan sesuatu yang tak terbatas. Yesus lalu menyampaikan perumpamaan tentang seorang hamba yang dibebaskan dari utangnya karena ia tak sanggup membayarnya. Akan tetapi, hamba yang telah menerima belas kasihan yang besar dari raja malah melakukan hal sebaliknya kepada hamba lain yang berutang kepadanya. Akibatnya, hamba itu pun dihukum oleh raja karena tidak mau menunjukkan sikap belas kasih dan mau mengampuni.

Maka, kesaksian iman akan pengampunan yang dikisahkan dalm Injil hari ini mengingatkan kita tentang pentingnya memiliki hati yang berbelas kasih, tidak menyimpan dendam dan amarah, serta senantiasa terbuka untuk mengampuni. Rasul Paulus mengingatkan kita bahwa kita hidup dan mati untuk Tuhan. Keterbukaan untuk mau mengampuni merupakan tanda bahwa kita adalah milik Tuhan.

(Fr. Ovan Adikila)

“Ampunilah kesalahan kepada sesama orang, niscaya dosa-dosamu akan dihapus juga, jika engkau berdoa” (Sir. 28:2).

Marilah berdoa:

Tuhan, bukalah hati kami untuk senantiasa mau mengampuni. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini